Sabtu, 27 November 2021
JURNAL MINGGUAN KE 14
Sabtu, 13 November 2021
JURNAL MINGGUAN
JURNAL MINGGU KE 12
My Weekly Journal
Model 4F
Sabtu pagi, 13 November 2021, jam 10.00 selepas pelajaran olahraga dan istirahat. Saya masuk kekelas untuk memulai pelajaran ke 2. Pas masuk kedalam kelas, kelas nampak sepi dan hanya ada beberapa murid yang sedang duduk dikursi pojok dan beberapa murid yang sedang asyik membaca disudut literasi. Lalu, saya bertanya pada pemimpin kelas, " Enggal, dinama murid-murid yang lain"?, tanya saya. " masih dibawah bu"Jawab Enggal. Dan beberapa saat kemudian datanglah murid-murid lainnya dan dalam keadaan yang nampak letih sekali, mungkin karna kecapean habis olahraga dan bermain" kasihan sekali", batin ku. Akhirnya saya memutuskan untuk mengajari Murid-murid saya tehnik STOP. Mereka kayanya butuh untuk dibuat fokus sehingga siap untuk belajar.
Apa itu tehnik STOP ?
Tehnik STOP adalah salah satu tehnik mindfulness yang dapat digunakan untuk mengembalikan diri pada kondisi saat ini dengan kesadaran penuh. STOP itu merupakan akronim dari; S=stop, berhenti. Hentikan dulu sejenak aktivitas, T= Take a deep Breath,tarik napas yang dalam dan hembuskan. O= Observe, amati pergerakan napas dan perut atau yang lainnya. P=proceed, lanjutkan aktivitas.
Apa manfaat Tehnik STOP?
Adapun manfaat dari melakukan tehnik STOP ini ialah perasaan menjadi lebih tenang, pikiran jadi jernih dan sikap jauh lebih positif.
Sejak saya belajar di Program guru penggerak banyak hal baru dan spektakuler yang bisa saya pelajari. Terus terang tujuan saya mengikuti program guru penggerak ini awalnya memang untuk belajar, terutama ilmu pengetahuan tentang dunia mendidik dan pendidikan, oleh karna itu sebisa mungkin saya pelajari materi yang saya peroleh dari program guru penggerak ini dengan sungguh-sungguh,walaupun ditengah kepadatan jadwal dan tugas-tugas lain yang saya emban. Setiap ilmu yang saya peroleh dari PGP ini maka akan langsung saya terapkan disekolah bersama murid-murid saya.
Pada Minggu ini kami mulai belajar modul 2.2. Pembelajaran Sosial Emosional. Perasaan saya saat mempelajari pembelajaran ini ialah sangat senang sekali. Kenapa saya senang? Sebelum mempelajari materi ini di PGP saya sudah lebih dulu mengajarkan kepada murid saya tentang bagaimana pentingnya seorang manusia mempunyai kecerdasan emosional (EQ) disamping kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Ketiga kecerdasan ini saling berkaitan dan tidak bisa terpisahkan serta harus dimiliki oleh anak. Karna saya sadar akan hal tersebut, maka sekali-kali saya menerapkannya dalam pembelajaran dikelas. Cara saya mengajarkan pemahaman kecerdasan emosional ini biasanya melalui cerita-cerita yang sarat akan makna, seperti cerita berikut ini: ada seorang murid yang sangat cerdas, nilai pengetahuannya selalu mendapatkan 100 disetiap mata kuliah, namun ada satu waktu dimana murid tersebut mendapatkan nilai 90 dan ia tidak terima akan nilai tersebut. Lalu dengan emosinya murid tersebut mendatangi gurunya dan diluar dugaan ia membunuhnya. Miris sekali, kecerdasan IQ yang tidak dibarengi dengan kecerdasan EQ dan SQ tidak akan ada artinya.
Tapi di PGP ini saya ingin mendapatkan bimbingan yang lebih dalam lagi tentang bagaimana pembelajaran Sosial emosional (PSE) diajarkan. Itulah alasannya mengapa saya sangat senang dan bersemangat.
Setelah 1 hari saya belajar tentang PSE di program guru penggerak saya langsung mempraktekkan salah satu tehnik pengenalan emosi dan pengolahan emosi yaitu tehnik STOP baik pada diri saya dan juga pada murid-murid saya. Alhasil setelah melakukan tehnik STO tadi, reaksi murid-murid macam-macam. Ada yang terlihat memahami apa yang telah dilakukan, ada yang menunjukkan wajah tersenyum, ada yang meminta diulang sampai 3 kali tehnik STOPnya, ada yang diam saja bahkan ada yang sampai mau tidur. Pokoknya lucu sekali, murid-murid saya memang sangat menggemaskan. Kalau untuk saya sendiri, tehnik STOP ini amppuh menghilangkan sakit kepala. Alhamdulillah.
Kompetensi Spiritual Kompetensi EmosiKompetensi Intelektual
Selasa, 09 November 2021
Dunia Mu
Senin, 08 November 2021
KONEKSI ANTAR MATERI. MODUL 2.1. PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
I. Tujuan Pendidikan menurut Ki.Hadjar Dewantara adalah murid mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia seutuhnya maupun sebagai bagian dari kelompok sosial.
Bagaimana perasaan kita saat ini sebagai pendidik, apakah sudah merasa bahagia?
Belajar- mengajar, menuntun dan dituntun, memotivasi lalu termotivasi, mendidik dan akhirnya terdidik.
Semua proses yang dilalui pendidik melibatkan psikis dan fisik, terutama psikisnya.
Penting sekali bagi seorang pendidik untuk mengetahui bagaimana perasaannya saat ini saat mempelajari sesuatu, apakah marah, sedih, senang, takut atau masih dalam perasaan bingung?
Seperti perasaan saya di awal saat mendengar pembelajaran berdiferensiasi. Ada perasaan bingung sekaligus perasaan tertantang untuk mengenal lebih dalam pembelajaran berdiferensiasi ini.
Kalau rekan sejawat merasakan hal yang sama seperti saya diawal pembelajaran, maka hal tersebut adalah wajar. Karna kita masih sama-sama belajar, walaupun pembelajaran berdiferensiasi ini mungkin sudah sering kita terapkan di kelas cuman dengan tujuan pembelajaran yang belum tepat.
Mampu mengenali perasaan kita dan kemudian mencari solusi untuk keluar dari keadaan tersebut adalah hal yang luar biasa. Penuhi kebutuhan diri sendiri lalu fasilitasi segala perasaan yang muncul, carilah teman yang bisa diajak sharing dan kolaborasi, nikmati pekerjaan sebagai pendidik tapi jangan nikmati kebingungan.
Dan satu hal yang saya peroleh dari Pembelajaran Berdiferensiasi ini ialah bagaimana saya berusaha membuka semua panca indera untuk lebih peka dalam melihat setiap perbedaan, mendengar kebisingan, menyentuh harapan , mengenali bakat dan potensi lalu kemudian mencoba menyisipkan pembelajaran berdiferensiasi dalam proses pembelajaran yang bermakna untuk murid.
Dari aktivitas mencoba tersebut, sampailah kita pada satu titik dimana kita semakin menyadari bahwa proses menuntun dalam melayani murid adalah proses yang harus dilakukan dengan penuh kesabaran dan tanpa batas.
Apa yang terpikir dalam pikiran kita saat mendengar tentang pembelajaran berdiferensiasi?
Yang terpikir dikepala saya, saat mendengar kata diferensiasi ialah "berbeda". Different berasal dari bahasa Inggris yang artinya berbeda. Pembelajaran berdiferensiasi yaitu pembelajaran yang berbeda, berbeda dari segi perencanaan, pelaksanaan dan penilaian.
Pembelajaran berdiferensiasi hadir sebagai salah satu strategi yang dinilai tepat dalam memfasilitasi keberagaman kebutuhan murid dan isi/konten kurikulum.
Definisi Pembelajaran Berdiferensiasi
Mengapa dibutuhkan pembelajaran berdiferensiasi?
Jawabannya ialah untuk memfasilitasi kebutuhan belajar semua murid yang berbeda baik minat, kesiapan dan profil belajar murid, serta beragamnya isi/ konten baik kurikulum, kompetensi dasar, tujuan pembelajaran serta assesmen yang digunakan.
Sebelumnya sebagai pendidik, saya menyamakan semua kebutuhan murid dengan memberikan strategi pembelajaran yang sama beserta produk/ hasil yang sama. Tentunya hal tersebut sangat keliru karna dalam hal ini murid tidak dapat menampilkan performa terbaik mereka karna tuntutan yang disamakan, sedangkan kita tahu bahwa setiap murid mempunyai kodrat masing-masing dengan kebutuhan belajar yang berbeda?
Ki. Hadjar Dewantara dalam filosofi nya menyatakan bahwa proses mendidik adalah proses menuntun murid menuju pada kodratnya, baik kodrat alam (tempat tinggal murid) Kodrat Zaman (Waktu) dan Kodrat dasar murid (Bakat bawaan dan potensi murid).
Disini seharusnya tugas pendidik adalah bagaimana mendesain pengalaman belajar yang bermakna, menantang dan relevan lewat beberapa strategi diferensiasi, yaitu diferensiasi produk seperti kesempatan mendemonstrasikan pemahaman. Diferensiasi proses, dimana pendidik mampu memberikan ragam cara penyampaian materi dengan tahapan yang jelas untuk setiap murid serta diberikan dukungan sesuai kebutuhan murid. Strategi Diferensiasi Konten berupa isi pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan murid untuk lebih meningkatkan lagi pemahaman dan kemampuan murid ketingkat selanjutnya.
Bagaimana Pembelajaran Berdiferensiasi ini dapat dilakukan dikelas?
Tujuan Pembelajaran Berdiferensiasi adalah merespon kebutuhan belajar murid. Pembelajaran ini dilakukan untuk semua murid dikelas bukan hanya untuk murid tertentu saja.
Kita tahu bahwa murid dalam kelas kita itu beragam, dengan gaya belajar yang berbeda, minat dan bakat yang berbeda serta kesiapan belajar yang berbeda pula. Murid hadir dengan kemampuannya masing-masing, pendidik secara sadar mengetahui muridnya mampu dalan beberapa hal lalu kemudian merancang dan memutuskan pembelajaran seperti apa yang akan diberikan, semua hal tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya pendidik telah berupaya melakukan pembelajaran yang berdiferensiasi, cuman tidak disadari bentuknya dan dengan tujuan yang tepat.
Dengan keberagaman tersebut bukan berarti guru harus mengajar dengan sejumlah cara yang berbeda sebanyak murid yang ada. Bukan juga dengan memberikan soal yang banyak untuk murid yang lebih cepat belajarnya dibanding murid lainnya. Pembelajaran diferensiasi tidak untuk mengkotak-kotakan murid berdasarkan kemampuanya, ataupun memberikan tugas yang berbeda untuk tiap murid. Dengan kata lain bahwa tujuan pembelajaran yang dilalui peserta didik sama cuman prosesnya yang berbeda.
Beberapa pertimbangan yang harus dipersiapkan dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi dikelas antara lain;
1. Lingkungan belajar yang kondusif. Di modul 1.4 yaitu budaya positif, calon guru penggerak sudah belajar bagaimana menghadirkan lingkungan belajar yang positif disekolah. Hal tersebut adalah modal Calon guru penggerak dalam mempersiapkan pelaksanaan pembelajaran berdiferensi karna pembelajaran berdiferensiasi sangat membutuhkan lingkungan belajar yang positif yaitu lingkungan belajar yang mampu mengundang murid untuk belajar sehingga murid tahu bahwa proses pembelajaran mereka akan selalu didukung penuh.
2. Murid mengetahui tujuan pembelajaran mereka secara jelas. Bukan hanya kurikulum dan guru yang memiliki tujuan pembelajaran yang jelas tapi murid juga. Sebenarnya murid mau diarahkan kemana dengan bakat, minat dan potensi yang dimiliki,
3. Penilaian berkelanjutan. Bagaimana diferensiasi ini bukan hanya strategi dan juga metode yang beragam tapi juga bagaimana pendidik bisa mencapai tujuan belajar dengan assesmen.
Assesmen terdiri atas;
a. Assesmen formatif ( Assesmen untuk dan sebagai pembelajaran), dimana pendidik mengumpulkan informasi yang membantu pendidik memberi umpan balik dan tindak lanjut proses belajar. Assemen formatif juga sangat membantu murid memperbaiki cara belajar dengan menentukan kembali strategi belajar yang sesuai dengan kebutuhan belajar murid.
b. Assesmen Sumatif (Assesemen terhadap proses pembelajaran) bertujuan menentukan tingkat pencapaian hasil belajar murid yang dilakukan diakhir materi pembelajaran.
Dari kedua assesmen tersebut , assesmen sumatif fokus pada hasil belajar berupa penugasan melalui tes dan skor nilai sedangkan assesmen formatif fokus kepada pengalaman belajar yang diperoleh murid dan orientasi prosesnya. Dalam pembelajaran berdiferensiasi yang sangat diperlukan ialah bagaimana umpan balik murid terhadap proses pembelajaran sebagai assesmen as learning bukan hanya sekedar nilai yang mereka peroleh.
4. Merespon kebutuhan belajar. Bagaiman respon pendidik dalam pembelajaran diferensiasi ini, terutama bagaimana pendidik mampu memahami murid dan bagaimana cara untuk memahami mereka.
Dalam pembelajaran berdiferensiasi, pendidik merupakan instrumen terbaik yang mampu memberikan kesempatan kepada murid untuk bisa berpendapat. Pendidik diharapkan bisa melatih kepekaan diri lewat observasi dan refleksi, supaya pendidik lebih tahu lagi kebutuhan murid. Bagaimana pendidik bisa memvariasi kebutuhan belajar murid lewat strategi-strategi diferensiasi, baik diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk.
5. Mengefektifkan Manajemen Kelas. Bisa jadi diferensiasi yang akan kita lakukan akan terasa sulit jika pendidik tidak mampu mengkondisikan kelas dengan baik. Pendidik tidak mengenal murid, tidak bisa membangun hubungan yang positif dengan murid. Modal kita dalam melakukan pembelajaran berdiferensiasi ialah adanya manajemen kelas yang baik sehingga kelas kondusif dan mampu mendukung proses KBM yang berdiferensiasi.
Bagaimana pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal .
Koneksi modul 2.1. Pembelajaran berdiferensiasi dengan modul - modul sebelumnya.
Koneksi dengan modul 1.1 Filosofi Ki.Hadjar Dewantara, bahwa pendidikan diharapkan mampu mewujudkan kebahagiaan dan keselamatan untuk murid. Hal ini sejalan dan berkaitan erat dengan pembelajaran berdiferensiasi yang titik utamanya mengarahkan pendidik pada proses menuntun, yaitu menuntun murid menuju kepada kodrat, pemenuhan kodrat dan pamaksimalan potensi murid. Melihat murid sesuai dengan kodrat mereka masing-masing, yang harus pendidik tebalkan lagi potensi tersebut agar lebih jelas dan semakin kuat.
Sabtu, 06 November 2021
JURNAL KE 11 MODEL 4F
JURNAL MINGGU KE 11
1). FACT (Peristiwa) hari jum'at di ruang elaborasi pemahaman, sungguh pengalaman belajar yang sangat menarik, pemaparan dari instruktur ibu Amalia Jiandra Tiasari sedikit menambah pemahaman saya akan pembelajaran berdiferensiasi. Bagaimana cara kita melihat tujuan pembelajaran apakah sudah esensial mencakup semua kebutuhan anak. Anak-anak dengan kebutuhan Khusus, anak yang dengan minat yang berbeda juga.
Pembelajaran berdiferensiasi itu adalah serangkaian keputusan masuk akal. Yang dirancang yang dipikirkan sebelumnya bukan dadakan. Jadi RPP yang kita buat itu sudah dirancang dan dipikirkan sebelumnya
2). Feeling (Perasaan) selama pembelajaran perasaan saya senang sekali walaupun sedang lelah oleh banyaknya tugas. Pemaparan materinya sangat bagus membuat saya jadi semangat.
3). Findings(Pembelajaran) Bahwa pembelajaran berdiferensiasi tidak mengkotak-kotakan siswa berdasarkan kemampuan mereka, tapi lebih kepada pencapaian tujuan pembelajaran. Gaya belajar anak itu beragam bukan hanya audiotory, kinestetik, visual tapi masih banyak lagi gaya belajar yang lain dan setiap anak bisa mempunyai beberapa gaya belajar. Tidak semua anak yang aktif bergerak bisa dikatakan kinestetik.
Cara memetakan kebutuhan belajar anak
1. Dengan membuat pertanyaan 2. menggali pemahaman 3. Assesmen diagnostik
4). Future (Penerapan). Bagaimana cara memahami Pembelajaran diferensiasi, ialah 1. sebagai guru kita bisa Lebih melatih lagi kepekaan diri terhadap kebutuhan anak. 2.Memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeluarkan pendapat mereka sehingga kita bisa melakukan 3. Melakukan assesmen diagnostik diawal pembelajaran.
Senin, 01 November 2021
Aku
Waktu
Waktu berlalu Tinggalkan pedih perih Bila ingat kenangan lalu Tak menentu kemana hati melangkah Tak terasa banyak hal yang sudah kulalui B...
-
A. Pemahaman Nilai dan Peran Guru Penggerak 1. Pemahaman Akan Nilai dan Peran Guru Penggerak P endidikan merupakan kebutuhan primer bagi man...
-
6 LANGKAH BRILIANT MENULIS BUKU BEST SELLER. Kegiatan saya 3 hari ini cukup padat sekali. Mempersiapkan materi pengajaran DARIN...
-
JURNAL REFLEKSI MODUL 1.1 1. Perasaan selama melakukan perubahan di kelas Setelah belajar selama seminggu dalam program guru penggerak,...