A. Pemahaman Nilai dan Peran Guru Penggerak
1. Pemahaman Akan Nilai dan Peran Guru Penggerak
Pendidikan merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Layaknya makanan, pendidikan sangat dibutuhkan oleh manusia supaya dapat menjadikannya manusia yang selamat dan bahagia.
Mengacu pada filosofi Ki.Hadjar Dewantara yang mengatakan bahwa pendidikan adalah proses persemaian benih-benih budaya. Budaya tidak bisa dilepaskan dari proses kehidupan manusia.
Proses penyemaian benih-benih budaya ini dimulai dari proses mendengar, mengamati, merasa, melakukan hingga menemukan makna budaya. Penemuan makna budaya ini, didapatkan dari pembiasaan-pembiasaan positif pada tri pusat pendidikan anak yaitu di rumah, sekolah dan lingkungan.
Pembiasaan yang dilakukan secara terus menerus secara konsisten akan membentuk suatu nilai dan karakter.
Sejalan dengan filosofi tersebut saya mencoba mengutip teori dari Dr. K. Kupper (dalam Idianto 2005: 108) Bahwa kebudayaan itu merupakan suatu sistem gagasan yang menjadi pedoman dan pengarah bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku, baik secara individu maupun kelompok sehingga bisa membentuk suatu karakter masyarakat yang baik guna mewujudkan karakter bangsa yang baik pula.
Jadi sangat jelas bahwa Pendidikan adalah proses penanaman nilai-nilai, budaya dan karakter.
Untuk menggambarkan proses perubahan perilaku dan penumbuhan karakter manusia, saya mencoba mengambil contoh dari fenomena gunung es.
Fenomena Gunung Es
Pada gunung es terdapat 2 bagian utama, yaitu bagian yang nampak dipermukaan yang disebut puncak gunung es dan bagian bawah permukaan yang tidak nampak yang disebut dasar gunung es.
Bagian gunung es ini dianologikan sebagai karakter anak. Karakter yang nampak pada anak yaitu bagian gunung es yang terlihat dipermukaan, pada bagian ini karakter anak nampak sebanyak 12 % saja, bagian ini umumnya bisa terlihat orang lain dan disadari oleh diri sendiri, sedangkan karakter yang tersembunyi sebanyak 88% berada dibawah alam bawah sadar yang perlu usaha tersendiri untuk melihatnya, apalagi mengubahnya. Dalam alam bawah sadar ini terdapat nilai-nilai, kepercayaan, pola pikir, soft skill yang masih tersembunyi dalam sebuah kotak hitam, dan kotak hitam ini merupakan identitas sebenarnya dari seorang manusia.
Jadi karakter yang kita lihat pada seseorang sesungguhnya didasari oleh perilaku-perilaku yang berulang-ulang telah dilakukan sehingga akhirnya menjadi kebiasaan-kebiasaan, kemudian kebiasaan-kebiasaan itu secara kumulatif menjadi gambaran karakter seseorang.
Bagian bawah dari gunung es juga menggambarkan lingkungan yang tidak terlihat, bersifat psikis dan tidak mudah disadari. 2 hal ini dapat kita sederhanakan menjadi pengkondisian dan pembiasaan yang akan mempengaruhi karakter manusia.
Jadi Cara yang dapat kita gunakan untuk menumbuhkan perilaku yang positif yaitu lewat jalan keteladanan dan sistem aturan yang konsisten.
Lalu siapakah yang berperan penting dalam menumbuhkan perilaku positif ini?
Untuk menumbuhkan perilaku positif di rumah, orang tua memegang peranan penting, di sekolah guru yang memegang peranan, sedangkan dimasyarakat yang memegang peranan adalah lingkungan pergaulan. Ketiga Tri pusat pendidikan ini harus saling bersinergi dalam mendukung tumbuhnya perilaku anak yang positif.
Berkaitan dengan ranah pendidikan di sekolah, guru mempunyai peran yang sangat penting mengingat guru adalah sebagai penuntun bagi murid-muridnya. Guru adalah contoh auntentik keteladanan, terlepas dari sosok tersebut benar atau salah, guru tetaplah seorang contoh yang akan ditiru dan dijadikan teladan bagi murid-muridnya. Maka dari itu guru harus menjadi teladan bagi pembentukkan nilai-nilai dalam diri anak disekolah.
Lalu guru seperti apakah yang dapat membawa anak kepada pembentukan karakter yang baik tersebut?
Yaitu guru yang paham akan nilai dan perannya sebagai seorang pendidik.
Untuk itulah program Guru Penggerak hadir guna mempersiapkan guru masa depan yang dapat menumbuh kembangkan anak secara holistik, menjadi teladan, mengerakkan diri dan juga orang lain, menjadi agen perubahan sistem pendidikan, sehingga mewujudkan profil pelajar Pancasila.
Guru penggerak yang mengerti akan nilai dan perannya sebagai seorang guru, yang tergerak hatinya untuk bergerak sehingga melahirkan pergerakkan dalam dunia pendidikan. Diharapkan semoga dari tangan guru penggerak inilah, terwujudnya profil pelajar Pancasila yang kita cita-citakan.
Berikut adalah gambaran profil pelajar Pancasila dengan 6 karakteristiknya;
1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berakhlak mulia.
2. Berkebhinekaan Global
3. Bergotong royong
4. Kreatif
5. Mandiri
6.Bernalar kritis
2. Pengertian, Nilai dan peran Guru Penggerak
1. Nilai
Menurut Steeman (dalam Adisusilo,2013:56) Nilai adalah sesuatu yang memberi makna dalam hidup, yang memberi acuan, titik tolak dan tujuan hidup. Nilai adalah sesuatu yang dijunjung tinggi, yang dapat mewarnai dan menjiwai tindakan seseorang.
Nilai yang harus dimiliki seorang guru penggerak ialah:
1. Nilai mandiri
2. Nilai reflektif
3. Nilai Kolaboratif
4. Nilai Inovatif
5. Nilai Berpihak pada siswa
2. Peran
Peran ialah merupakan aspek dinamis kedudukan (status), apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan ketentuan, maka ia menjalankan suatu peranan (Soerjono Soekanto,2002:243).
Peran yang harus di emban oleh seorang Guru penggerak ialah;
1. Menjadi pemimpin pembelajaran
2. Menggerakkan Komunitas Praktisi
3. Menjadi coach bagi guru lain
Seorang guru penggerak bisa menjadi pelatih bagi rekan guru lain, mendeteksi aspek yang harus ditingkatkan pada guru lain dan mampu merefleksikan hasil pengalamannya sendiri.
4. Mendorong Kolaborasi Antar Guru
Seorang guru mampu membangun kolaborasi, membuka ruang diskusi positif, baik dengan guru maupun dengan pemangku kepentingan sekolah maupun diluar sekolah untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.
5. Mewujudkan Kepemimpinan Murid
Untuk dapat menjalankan perannya dengan baik seorang guru penggerak harus menguasai 4 kompetensi yaitu:
1. Kompetensi memimpin pembelajaran
2. Kompetensi mengembangkan diri dan juga orang lain.
3. Kompetensi memimpin pengembangan sekolah yang berpihak pada siswa.
4. Kompetensi memimpin menejemen sekolah.
Lalu bagaimana seorang guru dapat meraih kompetensi tersebut ?
Maka seorang guru penggerak haruslah mempunyai nilai-nilai yang disebut kan diatas, yaitu nilai mandiri, nilai reflektif, nilai kolaboratif, nilai inovatif, dan nilai berpihak pada siswa.
B. Keterkaitan Antara Nilai dan Peran Guru Penggerak Dengan Filosofi Ki.Hadjar Dewantara
Filosofi Ki.Hadjar Dewantara tentang peran seorang guru ialah dimana guru berperan sebagai penuntun anak agar anak mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Dalam proses menuntun ini, guru harus mengajar dengan penuh kesabaran dan sepenuh hati mengabdikan diri untuk melayani siswa menebalkan garis-garis kodrat anak yang masih samar menebalkan menjadi laku yang berbudi luhur.
Ki.Hadjar Dewantara percaya bahwa dalam diri anak terdapat kodratnya masing-masing. Dalam artian sebenarnya anak sudah membawa kodrat dari sang pencipta baik sifat, bakat dan potensinya, tinggal bagaimana guru dapat menebalkan potensi tersebut dengan cara mengarahkan, membimbing dan mendorong sang anak hingga menjadi pribadi yang berprofil Pancasila, yang berimana kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkhebinekaan global, kreatif, mandiri, bergotong royong, dan bernalar kritis.
C. Reflektif Diri
Who am I, (siapakah saya)?
Sebenarnya Guru Seperti apakah saya?
Jhon Dewey (1993), menjelaskan bahwa berpikir reflektif adalah berpikir gigih dan mempertimbangkan dengan seksama tentang segala sesuatu yang dipercayakan kebenarannya atau diharapkan dari pengetahuan dengan alasan yang mendukung dan menuju pada suatu kesimpulan.
Dewey juga mengemukakan bahwa berpikir reflektif adalah suatu proses mental tertentu yang memfokuskan dan mengendalikan pola pikiran.
Dia juga menjelaskan bahwa dalam hal proses yang dilakukan tidak hanya berupa urutan dari gagasan-gagasan, tetapi suatu proses, sehingga masing-masing ide mengacu pada ide terdahulu untuk menentukan langkah berikutnya.
Dengan demikian, semua langkah yang berurutan saling terhubung dan saling mendukung satu sama lain, untuk menuju suatu perubahan yang berkelanjutan yang bersifat umum.
Jadi Merefleksikan diri ini menurut saya adalah bentuk dari rangkaian proses berpikir tingkat tinggi yang membutuhkan kehati-hatian dan penuh pertimbangan terhadap segala sesuai yang kita percaya guna menarik suatu kesimpulan.
Mau berpikir reflektif berarti kita sudah mau bertindak bijaksana pada diri sendiri. Dalam hal ini kita mau memberikan ruang dan kesempatan pada diri untuk merenung apa kebaikan dan keburukkan kita dengan jujur guna dengan tujuan memperbaiki kualitas diri.
Berdasarkan pertanyaan reflektif diatas, guru seperti apakah saya?
Dengan yakin saya mengatakan saya guru penggerak yang berani dan percaya diri. Berani menyuarakan isi hati dan pikiran menjadi aksi nyata serta percaya diri untuk tampil memegang tanggung jawab.
Peduli dan mau bekerja keras. Peduli akan kemampuan diri sendiri untuk berkembang sehingga dapat diterapkan demi kemajuan siswa didik serta mau bekerja keras mensukseskan apa yang saya cita-citakan.
Tidak peduli seberapa susah dan beratnya tantangan itu akan saya hadapi dengan niat tulus dan keyakinan bahwa selama kita berada pada jalan memuliakan pendidikan Niscahya Tuhan akan meridhoi.
Ke 5 nilai tersebut ialah:
1. Nilai Mandiri
2. Nilai Reflektif
3. Nilai Kolaboratif
4. Nilai Inovatif
5. Nilai Berpihak pada siswa
Ke lima nilai guru penggerak tersebut bagi saya sama-sama penting dan saling berkaitan satu sama lain. Tinggal bagaimana seorang guru penggerak mampu menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam dirinya secara utuh dan menerapkannya.
Kalau dijelaskan secara runut akan seperti ini,
1. Kita harus mandiri dalam merefleksikan diri sendiri, artinya apa? dalam menemukan dan mengembangkan diri dilakukan tanpa disuruh oleh orang lain melainkan karena hausnya kita akan ilmu pengetahuan dan keinginan kita untuk maju. (Nilai Mandiri - Reflektif).
2. Strategi pengembangan diri, bisa kita lakukan dengan cara menjalin komunikasi yang baik serta Kolaborasi bersama pihak-pihak yang terkait dan kompoten. (Nilai Kolaboratif).
3. Menciptakan suatu hal yang tepat guna demi pengembangan sekolah dan kemajuan siswa. Mencetuskan ide-ide baru yang terintegrasi dengan perkembangan zaman, teknologi tepat guna yang termodifikasi sesuai dengan kemampuan dan keadaan siswa didik dimasa sekarang. (Nilai Inovatif).
4. Sadar akan tugas dan kewajiban sebagai pendidik. Memprioritaskan siswa sebagai pusat pelayanan yang harus diutamakan, bukan hanya sekedar mengajar dan mendidik tapi juga mampu menjadikan siswa mandiri, percaya diri, sehingga mereka selamat dan bahagia menghadapi hidup. (Nilai Berpihak pada siswa).
D. Pihak-Pihak Yang Bisa Membantu Dalam Mencapai Gambaran Diri Sesuai Peran Dan Nilai Guru Penggerak.
1. Keluarga yang akan selalu mendukung segala kegiatan selama itu positif dan berguna untuk sesama.
2. Kepala sekolah yang selalu memberikan dorongan untuk terus meningkatkan diri dan maju.
3. Teman sejawat yang memberikan energi positif dengan dukungan dan rasa solidaritasnya yang tinggi.
4. Orang tua siswa yang percaya dan menghargai guru sebagai orang yang akan mendidik dan mengajari anak-anaknya.
5. Dinas pendidikan yang selalu berupaya membuka kesempatan dan ruang selebar-lebarnya untuk guru bisa mengembangkan diri melalui Diklat, seminar, dll.
6. Pengawas sekolah yang selalu memantau aktifitas guru-guru agar tetap pada jalur keprofesionalismeannya sebagai guru, memberi motivasi dan arahan yang membangun.
Jika semua pihak terkait saling bersinergi menyatukan persepsi, bekerja sama dalam kolaborasi serta peduli, niscahya Nilai-nilai dan Peran Guru Penggerak akan mampu memajukan dunia pendidikan.
Oleh: Novi Puspitasari, S.Pd
Luar biasa..
BalasHapusTop Guru Penggerak Kota Bima..
Bersama kita bergerak bukan saja lewat proses KBM tapi juga lewat tulisan. Dengan tulisan kita bisa terus mengembangkan diri menyampaikan ilmu pengetahuan yg berguna buat sesama
HapusPendidikan adalah akar dari budaya. Budaya berasal dari budi dan daya. Budi adalah akal pikiran yang menghasilkan cipta, rasa, dan karsa. Sedangkan daya adalah kekuatan baik fisik maupin non fisik pikiran. Oleh karena itu, benar bu Novi bahwa pendidikan perlu di tumbuhkan sesua dg kodratnya.
BalasHapusIya Pak.Erdin, semoga kita bisa terus mengembangkan cipta, rasa dan karsa anak sesuai kodratnya.
HapusBahasa tulisannya sangat tertata bu novi
BalasHapusTerimakasih pak. Yudi🙏
HapusTerimakasih banyak😊
BalasHapusHebat bu novi semagat jangan dikasih kendor...
BalasHapus