Jumat, 11 Maret 2022

 

KONEKSI ANTAR MATERI

 

A. Koneksi Modul 3.2. Pengelolaan Aset dengan modul-modul sebelumnya yaitu modul 1, 2 dan 3.1.

 

            Koneksi Dengan Modul 1 

1.1.        Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia KI. Hadjar Dewantara

Pemikiran Ki.hadjar Dewantara tentang Pendidikan dan Pengajaran lahir dari rasa kepedulian beliau akan nasib bangsa Indonesia pada saat itu yang terjajah. Bagaimana Pendidikan bisa sejajar dan menyentuh segala lapisan strata sosial. Mind Set/ pola pikir beliau adalah pola pikir seorang guru yang memikirkan nasib anak didiknya dimasa depan. Terbentuk dan mengakar pada Pola Pikir bahwa Pendidikan itu sejatinya adalah memerdekakan artinya siapapun anak tersebut mempunyai hak yang sama dalam merasakan Pendidikan, mempunyai hak yang sama untuk menjadi apapun yang mereka inginkan selama itu tidak melanggar kemerdekaan orang lain untuk merasakan kebebasan yang sama. Titik tertinggi dari makna Pendidikan ialah mampu mengantarkan anak-anak pada kebahagiaan dan kesejahteraan hidup siswa baik sebagai individu lebih-lebih dalam kelompok pergaulan yang lebih luas lagi.

 

Pengajaran adalah proses menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa didik. Yang menyampaikan ilmu ini ialah guru. Guru bertindak sebagai pemimpin dalam ruangan kelas, pemimpin yang akan mengajarkan Ilmu pengetahuan kepada siswa didik. Menurut KHD ada 3 peran guru dalam memimpin pembelajaran yang dikenal dengan “Laku Telu” yang dikenal dalam frasa Jawa, Ing ngarso sung tuladha berada didepan memberi teladan, Ing Madya mangun karsa berada ditengah memberi indpirasi dan Tut Wuri handayani berada dibelakang memberi dorongan.

Dari pemikiran ini saya melihat bahwa fungsi guru dalam pemeblajaran bukan hanya sekedar mengajar dalam makna memberi ilmu saja tapi juga bagaimana guru diharapkan menjadi suri tauladan, contoh baik yang bisa dilihat dan ditiru oleh siswa didik, menanamkan karakter dan nilai-nilai kebajikan dalam diri anak. Pemberi inspirasi dengan membimbing anak pada berbagai kegiatan pembelajaran yang menjadikan mereka kreatif, inovatif, berpikir maju dengan ide-ide baru yang berguna untuk kehidupan mereka serta memberi  dorongan agar anak mampu menjadi pribadi bahagia seperti yang dicita-citakan sehingga potensi anak yang tersimpan dalam dirinya dapat tergali dan Nampak dipermukaan.

 

Pemikiran ini menunjukan bahwa KHD adalah pendidik sejati yang menjadikan diri sebagai pelayan sesungguhnya dalam dunia Pendidikan. Koneksi antar modul 1.1. Filososi KHD dengan modul 3.2. Pengelolaan aset ialah  Bagaimana Mindset Aset modal manusia yaitu guru dapat mempunyai pola pikir yang diarahkan pada proses mendidik yang melayani sepenuh hati, menuntun siswa, memberikan pengajaran terbaik dan bermakna sehingga siswa didik merasakan kebahagiaan, bebas berimajinasi, bebas menjadi apa yang mereka inginkan, tumbuh dan kembang secara menyeluruh sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya.

 

1.2.       Nilai-Nilai dan Peran Guru Penggerak

Kaitan modul 1.2 nilai-nilai dan peran guru penggerak dengan modul 3.2. Pengelolaan Sumber Daya ialah bagaimana guru mampu mereflektifkan diri akan eksistensinya menjadi seorang guru, mulai dari niat dan pola pikir, cara mengajar apakah sudah berpusat pada siswa atau tidak, sudah menyeimbangkan antara cipta, rasa dan karsa,  atau sudah adilkah kita pada siswa didik?. Dengan kita menerapkan nilai-nilai guru penggerak yaitu reflektif, mandiri, inovatif, kolaborasi dan berpihak pada siswa  berarti kita sudah  senantiasa berpikir untuk menempatkan diri sebagai aset/ modal manusia yang kompeten mendukung peningkatan mutu Pendidikan disekolah.

 

1.3.       Visi Guru Penggerak

Didalam modul 1.3. Guru diajak untuk mempunyai impian dan cita-cita. Guru bersama dengan siswa berusaha menwujukan cita-cita tersebut semata-mata untuk menghadirkan pembelajaran yang berpihak pada siswa. Melakukan pendekatan Inquiri Apresiatif BAGJA dalam memprakarsai perubahan. BAGJA ini sejalan dengan modul 3.2. yaitu pengelolaan asset. Dimana dalam modul 3.2 kita diharapkan menggunakan pola pikir Asset based thingking dalam mengelola asset yang ada di kelas dan juga disekolah kita. Bagaimana membuat perubahan dalam kelas dengan memanfaatkan seluruh asset/ kekuatan yang dimiliki dalam kelas, baik guru, siswa, ruangan kelas, meja, kursi, taman, speaker kelas, kesepakatan kelas, buku-buku untuk menunjang tercapainya Visi dan Misi kelas.

1.4.       Budaya Positif

Pada Modul 3.2. Pengelolaan asset ada salah satu asset yang sangat mendukung terciptanya budaya positif dilingkungan sekolah yaitu aset sosial. Aset sosial yaitu bagaimana sekolah mampu menghadirkan lingkungan belajar positif lewat interaksi sosial antar warga sekolah. Hasil rapat yang disepakati bersama dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab merupakan hasil interaksi aset sosial yang positif. Dengan Kepala sekolah menerapkan Asset Basset Thingking pada Aset modal sosial ini tentunya lingkungan sekolah akan semakin positif sehingga akan berdampak pada kualitas pembelajaran yang diterima siswa.

Koneksi Dengan Modul 2

2.1. Pembelajaran Berdiferensiasi

Dalam Pembelajaran Berdiferensiasi guru berusaha memenuhi kebutuhan belajar individu siswa. Sebelum melakukan pembelajaran berdiferensiasi terlebih dahulu guru melakukan pemetaan terhadap kesiapan belajar murid, profil belajar dan minat belajar murid. Kaitan dengan modul 3.2. Pengelolaan aset yaitu terletak pada bagaimana cara pandang guru dalam  memfasilitasi keberagaman yang ada pada siswa. Bagaimana guru melihat siswa sebagai individu yang mempunyai keunikan, kecerdasannya masing-masing. Tidak ada pengkotakan antara siswa yang mampu ataupun tidak mampu karna semua siswa mempunyai kecerdasan dan keunikannya tersendiri. Dengan menerapkan pola pikir Asset Based Thingking guru bisa melihat potensi tersebunyi dari diri siswa seperti siswa yang dianggap cerewet oleh guru sebenarnya mempunyai kelebihan percaya diri dan terbuka. Kekuatan- kekuatan seperti itu yang bisa digali lagi dengan kita selalu menerapkan pemikiran Asset Bassed Thingking sehingga aset sosial keberagaman tadi bisa menjadi kekuatan kelas.

2.2. Pembelajaran Sosial Emosional

Dalam pembelajaran sosial emosional guru akan memberikan keterampilan yang dibutuhkan anak untuk bertahan dalam masalah, belajar menempatkan diri secara efektif dalam lingkungan dan dunia. Mempunyai keterampilan mengenal emosi, mengelolah emosi, berempati, membangun relasi, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab. dalam melakukan pengelolaan sebuah aset kita tidak melupakan unsur emosi yang dimiliki oleh manusia. Bahwa semakin seseorang itu memiliki kesadaran diri, kesadaran sosial maka mereka akan mampu mengambil keputusan dengan baik serta mampu mengelolah aset dengan penuh tanggung jawab.

2.3. Coaching

Guru sebagai coach adalah guru ada untuk membantu siswa agar bisa secara mandiri mampu menyelesaikan masalahnya dengan menggunakan kemampuannya sendiri. Coach tidak mengarahkan siswa dengan langsung memberikan solusi tapi coach ada semata-mata untuk menggali kemampuan siswa agar mempunyai solusi sendiri berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki.

Kemampuan-kemampuan yang dimiliki seorang coach dalam mengcoaching sangat berkaitan dengan pengelolaan aset seperti kemampuan berkomunikasi asertif, mendengarkan aktif, bertanya efektif dan umpan balik positif. Mengapa itu sangat berkaitan karna di dalam melakukan proses pengelolaan aset, pemimpin pembelajaran diharapkan mampu berkomunikasi secara asertif komunikasi yang positif yaitu komunikasi  pertanyaan,

 

Koneksi Dengan Modul 3

 

3.1. Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran.

 

Dalam pengelolaan sumber daya pada konteks kelas, pemimpin pembelajaran harus memperkenalkan nilai-nilai kebajikan universal yang ada disekitar siswa. Terkadang mereka akan dihadapkan pada pilihan-pilihan hidup, yaitu benar atau salah. Dengan mengetahui nilai-nilai kebajikan universal artinya memikirkan kekuatan dan kelebihan aset, siswa diajak untuk berpikir bahwa kesempatan atau peluang untuk berubah menjadi maju itu selalu ada. Walaupun dimata orang lain aset tersebut penuh kekurangan tapi dimata orang-orang yang selalu melihat dengan cara positif dan berpikir pasti ada kekuatan tersembunyi didalamnya (Asset Bassed Thingking)  pasti akan berbeda hasilnya. Nilai-nilai kebajikan tadi menjadi patokan kita dapat merefleksikan hal bai kapa yang bis akita terapkan dalam pengembangan aset yang kita miliki. Dan kalaupun nanti ditemukan kasus yang mengandung unsur dilema etika benar melawan benar ataupun bujukan moral, guru dapat mengatasinya dengan berlandaskan pada 4 paradigma dilema etika. 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengujian keputusan.

 

Kesimpulan dari koneksi antar materi dari modul 1, 2 dan 3 adalah mengajarkan guru untuk terus belajar, belajar dan terus belajar memberikan yang terbaik untuk siswa didik. Mulai dari mind set yang menuntun, melayani, sadar akan tugas dan tanggung jawab lalu semangat meraih cita-cita bersama dalam sebuah Visi kelas, menciptakan budaya yang mendukung tumbuh kembang siswa, siap mendengarkan dan memenuhi kebutuhan belajar siswa, menggali kemampuan dalam diri siswa dengan coaching, mampu mengatasi masalah dalam hidup lewat sosial emosional sehingga titik akhirnya ini kembali lagi pada tujuan Pendidikan yaitu merdeka yang benar-benar merdeka serta Bahagia yang setinggi-tingginya.

 

Kesimpulan dari modul 3.2. Pemimpin Dalam Paengelolaan Sumber Daya ialah bagaimana guru sebagai pemimpin pembelajaran sadar dan peduli untuk maksimal melakukan usaha peningkatan kualitas pembelajaran dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada dilingkungan daerah maupun sekolah. Melakukan pemetaan sumber daya, mengolah sumber daya dengan strategi-strategi yang dapat berdampak langsung pada siswa.


Bagaimana pengelolaan sumber daya yang tepat  dapat membantu proses proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas.

Asset Bassed Thingking mengajarkan kepada kita untuk berpikir optimis dan senantiasa melihat segala sesuatu dari segi positif. Walaupun dalam hidup pasti ada sisi negative ataupun kekurangan tapi itu jangan dijadikan alasan untuk tidak melakukan perubahan. Dalam pola pikir yang mengarahkan pada kelemahan tentunya kita bisa berusaha mengambil pelajaran dengan memunculkan kekuatan-kekuatan positif didalamnya. Contohnya saat melihat seseorang yang berbuat salah tidak serta merta kita menghakiminya tapi kita bisa ambil sisi baiknya yaitu dibalik kesalahan yang dibuat itu membuatnya makin banyak memahami dan lebih dewasa lagi. Contohnya aset fisik ruang kelas, jika dikelolah dengan baik mulai dari kebersihan, pengaturan benda-benda yang ada dalam kelas sesuai, SOP kelas, sudut baca yang menyenangkan dan penuh dengan buku yang menarik tentunya akan menarik perhatian siswa untuk betah dan nyaman berada didalam kelas, siswa jadi senang membaca sehingga akan berdampak kepada kualitas pembelajaran dalam kelas.


Contoh hubungan materi dalam modul 1 terhadap materi modul 3

Guru mempunyai mindset untuk mempersembahkan pembelajaran yang berpusat pada siswa maka guru tersebut akan berusaha melakukan perubahan dengan memanfaatkan aset/ kekuatan yang ada untuk mendukung tercapainya perubahan. Aset yang bisa digunakan adalah Siswa sebagai agen perubahan. Dengan mempelajari modul 3.2. CGP lebih peka lagi bahwa banyak sekali modal yang ada disekitar kita yang bisa dikelolah untuk dipergunakan dalam proses KBM. Mungkin selama ini fokus hanya berada dalam kelas saja tapi bisa kita perluas lagi sampai diluar kelas bahkan diluar sekolah.

 

Sebelum saya mempelajari materi ini, interaksi sosial yang saya lakukan cenderung mengikuti alur bagai air yang mengalir, tidak terlalu memikirkan pemikiran- pemikiran negatif yang akan berdampak pada orang lain selama saya tidak ikut terpengaruh. Didalam berinteraksi memang kita bisa memilih dengan siapa kita bergaul tapi dalam sebuah institusi/ komunitas kita dituntut untuk berkolaborasi dan bertukar pikran dengan rekan kerja. Terkadang  kita tidak sepaham dengan pemikiran mereka dalam memposisikan dirinya sebagai guru, yang hanya memikir mengajar hanya sebuah tugas semata dan tidak lebih. Padahal kita tahu bahwa tugas sebagai guru itu bukan hanya mengajar dikelas tapi sampai pada komunikasi terhadap orangtua, mengenali karakter siswa, memantau perkembangan siswa. Orang-orang yang acuh tadi pasti ada dan kita tidak bisa menghindari mereka. Pikiran-pikran negative yang secara sadar kita dengar tidak berusaha kita rubah. Tapi setelah memperlajari modul 3.2. ini saya merasa mempunyai tanggung jawab besar sebagai pemimpin dalam pengelolaan aset bahwa sangat penting bagi menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif, berkolaborasi, penuh kesadaran akan tugas dan tanggung jawab bukan hanya untuk saya sendiri tapi juga untuk orang-orang yang ada dalam lingkup kerja saya.

B.    Rancangan Tindakan

 

PRAKARSA PERUBAHAN

Membuat Kelas 4A Menyenangkan   

TAHAPAN

Pertanyaan

Daftar tindakan/ riset/ penyelidikan yang perlu dilakukan untuk mendapatkan jawaban

B-uat pertanyaan (Define)

       Membuat pertanyaan utama yang akan menentukan arah investigasi kekuatan/potensi/ peluang;

       Menggalang atau membangun koalisi tim perubahan

 

Apa yang harus saya lakukan agar  membuat kelas menjadi menyenangkan dan nyaman.

-        Menganalisa space kelas/ keadaan ruang kelas

-         Menentukan bagian apa saja yang akan dirubah

-        Membuat daftar-daftar kecil kegiatan yang akan dilakukan.

A-mbil pelajaran (Discover)

       Menyusun pertanyaan lanjutan untuk menemukenali kekuatan/potensi/ peluang lewat investigasi;

       Menentukan bagaimana cara kita menggali fakta, memperoleh data, diskusi kelompok kecil/besar, survei individu, multi unsur

 Contoh kelas-kelas yang menyenangkan itu seperti apa?

-        Melihat dan bertanya pengalaman guru lain yang kelasnya terlihat menyenangkan

-        Menulis hal-hal yang kita temukan dan menjadikannya masukan yang perlu dipertimbangkan

-        Mencatat apa yang kita peroleh dari hasil wawancara

G-ali mimpi (Dream)

       Menyusun deskripsi kolektif bilamana inisiatif terwujud;

       Mengalokasikan kesempatan untuk berproses bersama, multiunsur (kapan, di mana, siapa saja).

 Apa saja yang kami inginkan terdapat dalam kelas agar kelas kami menyenangkan

-        Menyiapkan ruangan kelas

-        Menyiapkan tempat baca

-        Menentukan hiasan kelas

-        Menyiapkan kesepakatan

-        Sikap siswa dan guru.

-        Menyiakan bunga hias

-        Menyiapkan permainan yang menyenangkan.

J-abarkan rencana (Design)

        Mengidentifikasi tindakan konkret yang diperlukan untuk menjalankan langkah-langkah kecil sederhana yang dapat dilakukan segera,dan langkah berani/terobosan yang akan memudahkan keseluruhan pencapaian;

        Menyusun definisi kesuksesan pencapaian

-        Rencana seperti apa yang bisa kami susun agar bisa menghadirkan kelas yang menyenangkan  

-        Membuat daftar rencana

Merubah kelas, bagian kelas yang dirubah agar lebih menarik dan menyenangkan

-        Menentukan hari pelaksanaan perubahan kelas

-        Menentukan tugas masing-masing siswa

-        Menentukan skala prioritas perubahan, misalnya sudut baca, hiasan kelas,kebersihan kelas.

-        Membuat beberapa catatan

 

 

A-tur eksekusi (Deliver)

       Menentukan siapa yang berperan/ dilibatkan dalam pengambilan keputusan;

       Mendesain jalur komunikasi dan pengelolaan rutinitas (misal: SOP, knowledge management, monev/refleksi)

Siapa saja yang terlibat dalam perubahan kelas?

 

SOP pengelolaan seperti apa yang membuat kelas tertata dengan baik dan menyenangkan.

 

 

-        Walikelas, pendamping kelas dan siswa melaksanakan perubahan didalam kelas 4a secara Bersama-sama

 

(Maret 2022)

 

 



Ruangan Kelas yang Luas dan Nyaman


Halaman Sekolah yang Luas dan Nyaman





                                    




                                          

 

Sabtu, 05 Maret 2022

 

JURNAL REFLEKSI 21

Oleh : Novi Puspitasari, S.Pd

4 F

Bagaimana Ketulusan Menggerakkan Asset Sekolah

 

Sabtu pagi 5 Maret 2022 pagi ini saya kembali menerapkan prinsip asset dalam memimpin pengembangan sekolah. Di SDN 55 Dara Kota Bima, budaya Sehat dan bersih adalah budaya sekolah yang dilaksanakan setiap hari sabtu. Tentunya dalam setiap budaya, terdapat beberapa guru yang ditunjuk sebagai pembina kegiatan Budaya. Berdasarkan hasil pengamatan dan evaluasi saya selama ini ada seorang guru pembina olahraga yang tidak pernah mengikuti kegiatan budaya sekolah seperti program literasi dan Imtaq terkecuali fokus pada binaannya saja yaitu pembina upacara bendera walaupun kenyataannya guru tersebut hanya bekerja sendiri.

Sejak awal saya mengabdi di SDN 55 Dara Kota Bima, 18 februari 2022 tidak sekalipun saya melihat guru tersebut ikut kegiatan budaya sekolah disamping itu ada juga beberapa guru yang mengadu pada saya akan hal tersebut. 3 kali kepemimpinan berganti tapi belum pernah melihat dia ikut terlibat dalam kegiatan imtaq dan Literasi. Kenapa?

Akhirnya hari Jum’at tanggal 18 februari 2022 kami mengadakan kegiatan Imtaq seperti biasa. Saat kegiatan Imtaq mulai dilakukan saya melihat guru tersebut sedang melakukan finger print. Mengingat apa yang terjadi selama ini saya berpikir ini adalah waktu yang tepat untuk membuat kebiasaan itu berubah. Dan akhirnya saya memanggilnya untuk duduk disamping saya. Saya ambilkan dia buku yasin dan akhirnya kami membaca yasin bersama, lalu selepas kegiatan selesai, saya mengatakan kepadanya “Trimakasih banyak sudah mau ikut kegiatan Imtaq”. Dengan senyum dia menjawab ucapan saya. Perasaan saya saat itu senang melihat hal tersebut, saya tulus melakukan ini. Saya sudah belajar PSE dan KSE untuk mengenali emosi dan membangun relasi, Saya sudah belajar coaching untuk membuka potensi, mengenal restitusi untuk menyelesaikan masalah siswa dan belajar mengambil keputusan untuk menentukan kebijakan sebuah putusan. Semua pelajaran yang saya pelajari diguru penggerak saya terapkan. Kunci untuk tercapainya tujuan adalah menjadikan Tuhan sebagai sandaran, sabar dan mau menjadi pendengar yang baik, tidak egois, berpikir untuk kepentingan bersama dan yang paling penting adalah tidak serakah.  Saya ingin membawa perubahan untuk sekolah yang saya pimpin. Untuk guru-guru sehingga dampaknya akan tertuju pada pencapain peserta didik. Saya teringat bahwa kita harus berpikir kearah kekuatan bukan kelemahan dan saya percaya bahwa setiap orang itu punya kelebihannya sendiri. Bukan lantas dia menunjukkan kelemahan lantas kita mengatakan orang itu lemah. Cuma bagaimana cara kita sabar, mendorong, dan mengeluarkan nya dari keadaan yang membuatnya tidak berkembang. Semua butuh proses lakukan secara bertahap itu yang saya terapkan selama ini.

Dan alhamdulillah pada kegiatan budaya lainnya guru tersebut sudah selalu ikut dan terlihat lebih bersemangat dari biasanya. Tanpa saya minta dia ikut terlibat, itu pencapaian luar biasa bagi saya. Kebahagiaan seperti itu yang tidak bisa diukur dengan materi.

Dalam kegiatan rapat hari ini 5 maret 2022 kembali lagi saya mengatakan bahwa saya akan membuka kesempatan seluas-luasnya untuk guru mengembangkan diri dan potensi. saya sangat percaya bahwa kita semua hebat. Mengapa saya berkata demikian, karna saya tahu bahwa asset biotik ( manusia) adalah penggerak bagi asset abiotic. Jika guru-guru tidak mau berubah dan bergerak mustahil ada perubahan.  Untuk menggerakkan asset abiotik kita sangat membutuhkan asset biotik.

Tantangan yang saya hadapi ialah tidak semua kita sadar akan diri dan potensi yang kita miliki. Terlalu nyaman berada di zona tertentu membuat kita enggan untuk melakukan terobosan. Ide-ide yang kita kemukakan terasa berat jika kita tidak terbiasa untuk berada di zona berbeda. Saya melihat bahwa ke 7 aset/ modal tersebut saling berkaitan. Aset manusia yang berbuat, bergerak dan mempelopori suatu pengembangan, asset finansial, sosial  yang menunjang pengembangan menjadi lebih luas. Aset politik, agama dan budaya yang membuat asset tetap pada koridor dan tahapannya. Aset Fisik dan Lingkungan alam adalah tempat ataupun alat yang dipakai untuk berkembang. Jika salah satu asset tersebut tidak mendukung maka akan hasil yang diperoleh tidak akan maksimal.

Contohnya sekolah mempunyai kemampuan dan potensi IT tapi sekolah tidak menyediakan Sarana dan prasarana yang memadai, Jaringan sosial tidak mendukung. Walaupun ke 5 aset mendukung tapi jika salah satu asset tidak ada maka hasilnya tidak maksimal.

 

Untuk kedepannya saya ingin 1. Mengembangkan asset sekolah dengan memberikan peluang yang sama dan seimbang. 2. Lebih peka lagi dengan asset biotik maupun abiotik yang dimiliki sekolah. 3. Mengembangkan siswa didik sebagai asset perubahan dimasa yang akan datang dengan menghadirkan pembelajaran yang bermakna dan nyata. 4. Menghadirkan program-program yang dapat meningkatkan kualitas siswa didik 5. Seluruh warga sekolah sejahtera dan Bahagia tanpa tekanan dan selalu berpikir untuk kemajuan sekolah.

Foto : Yang menunjukkan bagaimana kami mengembangkan orang lain dan mendukung pengembangan Aset sekolah

Ibu guru Asni yang belum pernah menjadi pembawa acara

Pak  Arif  yang tidak pandai bergerak senam akhirnya tampil menunjukkan diri

Sabtu, 26 Februari 2022

Jurnal Mingguan 20

 Jurnal Mingguan 20

oleh: Novi Puspitasari,S.Pd

SDN 55 Dara Kota Bima


Hari ini, Sabtu 26 Februari 2022 saya mengikuti kegiatan Lokakarya 5. Refleksi yang bisa saya ambil dari kegiatan lokakarya 5 ini ialah bahwa menjadi seorang CGP perjuangannya takkan terhenti hanya karna faktor dana dan kelemahan lainnya karna CGP akan selalu semangat berjuang memberikan kreatifitas terbaik walaupun ditengah keterbatasan.

Berkaca  Pada Modul 3.2. tentang pengelolaan aset, saya sadar bahwa berpikir haruslah berdasarkan pada aset/ kekuatan yang ada pada diri dan sekitar bukan fokus pada kelemahan dan kekurangan semata. Proses sharing dan kolaborasi selalu kita lakukan saat mendapatkan kendala/hambatan. 

Dalam lokakarya 5 ini kami membahas tentang kompetensi apa yang sudah berkembang dan belum berkembang pada diri kami CGP. 

Saya menyadari sejak saya mengikuti program PGP dan menjadi CGP ada beberapa kompetensi yang mulai saya perhatikan dan asah, seperti kompetensi pengembangan diri dan orang lain. Pengembangan diri, seperti kepribadian yang semakin matang lewat pembelajaran PSE dan  KSE. Disamping untuk diri sendiri saya juga menerapkan PSE dalam pembelajaran dikelas, membangun relasi dan kolaborasi dengan warga sekolah dengan komunikasi efektif.  Menciptakan lingkungan kelas dan sekolah yang positif lewat budaya-budaya sekolah yang konsisten kami laksanakan. Menciptakan pembelajaran yang menyenangkan untuk murid lewat pembelajaran berdiferensiasi.

Strategi yang saya lakukan agar dapat mengembangkan kompetensi tersebut ialah dengan cara selalu berpikir positif terhadap setiap permasalahan dan keadaan, belajar membuka diri untuk mengenal banyak orang, mencoba dan selalu berusaha membuat kelas menyenangkan. Dalam proses pengembangan kompetensi dilakukan secara bertahap dan tidak instan, butuh usaha dan kemauan keras untuk berproses menjadi baik. Alhamdulillah berkat materi keren yang saya peroleh dari PGP, Pengajar praktik yang hebat saat pendampingan serta fasilitator yang sabar dan telaten dalam ruang kolaborasi menjadikan saya lebih baik dan berkembang lagi.



Dalam kegiatan Lokakarya 5, kami diminta untuk menggambarkan perasaan kami lewat gambar yang dibuat. Lalu, saya menggambar sebuah tangan yang memegang teko yang sedang menuang air dalam gelas. Gambar tersebut menceritakan bahwa perasaan saya dalam keadaan stabil dan tenang tanpa tekanan pekerjaan. Artinya saya datang ke lokakarya dalam keadaan siap untuk belajar menerima ilmu dan berbagi praktik baik bersama CGP dan Pengajar praktik. Saya berusaha fokus pada tujuan saya. Perasaan stabil dan tenang tentunya juga bermuara pada rasa nyaman dan bahagia karna berjumpa kembali dengan rekan-rekan CGP lainnya.



Saya sadar masih ada kompetensi lain yang harus saya kembangkan kedepannya diantaranya kompetensi manajemen program sekolah seperti kompetensi kewirausahaan yang belum pernah saya sentuh. Bagaimana melatih murid untuk mempunyai semangat, kerja keras dan berwirausaha. Guru-guru mempunyai semangat juang, pantang menyerah dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan berpusat pada murid. Kendala yang saya hadapi ialah pengaturan waktu dikarenakan kesibukan dan prioritas kerja lain yang harus didahulukan. Tapi saya akan berusaha untuk meminimalisir hambatan tersebut dengan melakukan sharing terlebih dahulu dengan rekan sejawat tentang keinginan saya serta kemudian kedepannya mengadakan rapat dengan seluruh PTK. Saya juga akan merancang sebuah pembelajaran/program yang memperkenalkan murid-murid pada dunia kewirausahaan baik semangat berwirausah maupun praktek langsung berwirausaha seperti membuat bunga dari kertas, asesoris, alat peraga mandiri dan makanan yang bisa dijual oleh murid. Ukuran keberhasilan bagi saya ialah jika saya melihat murid-murid saya bahagia, semangat bersekolah dan belajar meningkatkan kompetensi lain yang tersimpan dalam dirinya.



Kedepannya saya akan lebih reflektif diri lagi serta meningkatkan kompetensi manajemen saya.


Jumat, 18 Februari 2022

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

KONEKSI ANTAR MATERI

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran.
Oleh: Novi Puspitasari, S.Pd


Pengaruh Pratap Triloka Ki. Hadjar Dewantara terhadap pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Pratap Triloka adalah 3 semboyan yang kita kenal dengan, Ing Ngarso Sung Tuladha (didepan memberi teladan), Ing Madya Mangun Karsa ( ditengah membangun motivasi), Tut Wuri Handayani (dibelakang memberi dukungan). Semboyan yang selalu didengungkan setiap hari pendidikan, 2 Mei.

Bentuk pemaknaan dari ketiga semboyan tersebut secara garis besarnya ialah bahwa pendidik berfungsi sebagai Figur yang digugu dan ditiru, Motivator pembelajaran dan juga pendukung utama pendidikan. 

Walau zaman semakin maju, semboyan tersebut seakan tak lekang oleh waktu, pemikiran Ki. Hadjar Dewantara mampu terabsorb dalam perkembangan zaman. Berjalan seiring perkembangan ilmu dan teknologi. Diharapkan pendidik mampu memberi teladan layaknya sebuah mata air ditengah gurun pasir yang akan menyelamatkan negri dari dekradasi karakteristik.  Pemberi harapan besar akan bertahannya peradaban yang berbudaya serta mampu memfilter pengaruh budaya luar yang jauh dari budaya bangsa. 

Pendidik diharapkan sadar akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai figur yang bisa digugu dan ditiru, memegang teguh kejujuran, loyalitas, integritas, profesionalisme, disiplin ilmu dan juga etika. sehingga pada akhirnya mampu membuat keputusan dengan mencerna terlebih dahulu dampak baik dan buruknya semata-mata untuk siswa didik. 

Ing Madya mangun karsa, yaitu guru adalah motivator utama yang senantiasa memberi semangat lewat pembelajaran yang penuh kreatifitas, mengundang rasa ingin tahu melalui pendekatan, strategi, tehnik maupun cara-cara baru yang lebih brilian.

Tut Wuri Handayani, pendidik diharapkan mampu memberi dukungan baik moral maupun moril kepada siswa. Menganggap siswa sebagai anak sendiri yang senantiasa akan kita berikan yang terbaik sepanjang kita bisa. memberikan keputusan yang terbaik semata-mata demi kebaikan putra putrinya.

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Perkembangan dan pertumbuhan anak selalu berubah setiap saat. Landasan dasar setiap keputusan adalah nilai-nilai kebajikan yang tertanam dalam  diri seseorang. Perkembangan selalu ditandai dengan kematangan fungsi-fungsi organ sedangkan pertumbuhan ditandai dengan bertambahnya berat dan bentuk fisik. Perkembangan psikologis anak sangat tergantung pada peristiwa maupun kejadian yang pernah dialami oleh anak yang pada titik-titik tertentu sangat mempengaruhi mental dan kejiwaan anak. Saat masa pertumbuhan. 

Santrock (2012) menyatakan bahwa masa remaja adalah masa dimana pengambilan keputusan terkait pilihan dimasa hidup semakin meningkat. Hal tersebut terlihat dari mulai berkembangnya pengambilan keputusan tentang masa depan, teman-teman yang akan dipilih. Kemampuan pengambilan keputusan merupakan hal yang sangat penting untuk dipelajari karena keputusan dapat menyebabkan konsekwensi yang sangat mempengaruhi kehidupan setiap individu, kehidupan orang lain dan kehidupan masyarakat.

Masa pengasuhan orang tua menjadi fondasi dasar terbetuknya prinsip-prinsip dasar yang akan berkembang dikemudian hari. Orang tua yang mengasuh anak dengan cara menuntut dan mengekang akan memberikan dampak negatif pada anak khususnya pada anak yang sedang beranjak remaja (kurniasih dan Pratisti, 2013). Hal ini sejalan dengan filosofi pendidikan Ki.Hajar Dewantara yang mengatakan bahwa pendidikan adalah proses menuntun dan bukan menuntut anak. Tujuan pendidikan adalah mengantarkan anak kepada kebahagiaan baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari anggota masyarakat.

Saat anak merasa bahagia dengan kehidupannya maka anak akan jauh dari rasa tertekan sehingga akan berdampak baik pada proses pengambilan keputusan baik untuk dirinya, orang lain dan juga masyarakat.

Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan Coaching (bimbingan) yang diberikan oleh Fasilitator?

Pada proses pendampingan yang dilakukan oleh Fasilitator dalam sesi ruang kolaborasi, fasilitator sangat mampu memberikan arahan yang jelas seputar pengambilan keputusan. Fasilitator memberikan ruang yang seluas-luasnya untuk beraspirasi mengemukakan pendapat lewat sharing dan tanya jawab serta memberikan penguatan diakhir sesi diskusi dan presentasi. Proses pembelajaran pengambilan keputusan yang dipelajari mampu digali lebih dalam lagi Pada kegiatan Coaching karna dalam kegiatan coaching seorang coach akan menggali lebih dalam lagi keterampilan dan potensi coachee lewat pertanyaan-pertanyaan yang diberikan. Pertanyaan seputar benar dan tidaknya keputusan yang diambil,  langkah-langkah yang sudah ditempuh dapat dipertajam lagi lewat proses coaching.

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Pembelajaran yang dihadirkan oleh guru dalam kelas sangat efektif bila mampu mengintegrasikan pada kompetensi sosial emosionalnya. Saat seorang guru mampu memiliki mindfulness (kesadaran penuh) maka guru tersebut akan mampu mengenali emosi, mengolah emosi, membangun relasi hingga terampil dalam mengambil sebuah keputusan. Saat seorang guru berada pada kondisi kesadaran penuh maka guru akan mampu menyampaikan pesan dengan jelas serta menyatakan sikap dengan tepat.

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika ketika kembali kepada nilai- nilai yang dianut oleh seorang pendidik?

Setiap manusia mempunyai nilai-nilai yang mereka yakini. Nilai-nilai itu adalah nilai kebajikan universal yang terdiri dari: kejujuran, kebenaran, keadilan, kasih sayang, menghargai, tolong menolong dan lain-lain. Dan nilai kebajikan yang diyakini tiap individu berbeda. Setiap individu mempunyai pandangan yang berbeda dalam menyikapi sesuatu. Pada saat menghadapi masalah yang berkaitan dengan moral ataupun etika, penting kita harus kembali kepada prinsip-prinsip yang kita yakini. Nilai-nilai kebajikan yang bersingunggan sepanjang tidak merugikan banyak orang, tidak melanggar hukum ataupun aturan maka masih bisa untuk ditolerir. Memang untuk memutuskan suatu keputusan sebaiknya dipikirkan dengan seksama tanpa melibatkan ego dan berlandaskan hanya karna rasa kasihan semata. tapi juga harus dikaji dan diidentifikasi baik dari segi Paradigma pengambilan keputusan, prinsip-prinsip yang mendasari sampai pada 9 langkah pengujian pengambilan keputusan.


Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?

Saat mengambil sebuah keputusan seorang pemimpin pembelajaran harus mengetahui dan menguasai persoalan yang dihadapi, mengenal seluk beluk persoalan dengan jelas bukan hanya dari satu sudut pandang berdasarkan pandangan sendiri saja. Karna itu bersifat subjektif. Ada baiknya kita bertukar pikiran dan pendapat dengan orang lain yang mungkin pernah mempunyai pengalaman yang sama tentang masalah yang tengah kita hadapi. selanjutnya buatlah keputusan dan laksanakan keputusan yang sudah kita ambil dengan sepenuh hati. Terakhir lakukan evaluasi terhadap keputusan yang sudah kita ambil untuk menjadi bahan pembelajaran dikemudian hari. 

Apakah pengambilan keputusan yang tepat akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman? maka jawabanya adalah iya. Saat keputusan yang kita ambil tersebut tepat maka akan tercipta lingkungan yang positif, dimana orang-orang akan saling menghargai satu dengan yang lainnya sehingga tercipta pula lingkungan yang positif. Namun jika keputusan yang kita ambil itu salah misalnya mementingkan diri sendiri, maka orang-orang akan saling bersinggungan, iri dan berontak dan akhinya memicu perkelahian yang mengakibatkan hilangnya rasa aman dan nyaman. 

Kesulitan- kesulitan yang ditemukan dilingkungan sehingga sulit menentukan keputusan?

Dalam mengambil sebuah keputusan pasti menemukan beberapa kesulitan, apalagi kita hidup berkelompok. Paradigma tiap orang berbeda dalam menyikapi sebuah masalah dan menentukan keputusan. diantaranya adalah, 1. komunikasi yang kurang efektif, yaitu adanya beberapa kalangan yang masih belum mampu mengkomunikasikan aspirasinya secara sopan dan tepat, cenderung cepat emosi dan berpikiran sempit  2. rasa curiga menganggap ini adalah kepentingan orang tertentu saja tanpa mau mengkaji terlebih dahulu maksud dan tujuan orang tersebut 3. Kurangnya rasa peduli dan rasa memiliki sehingga keputusan yang disepakati tidak dijalankan dengan maksimal dan konsisten. 4. lebih mementingkan masalah dan kepentingan diri sendiri.

Pengaruh keputusan yang diambil dengan pengajaran yang memerdekakan murid

Sebisa mungkin keputusan yang saya buat adalah mengutamakan kepentingan siswa. Jangan sampai keputusan yang saya ambil merugikan mereka. Tetap konsisten menerapkan budaya positif sekolah, membebaskan siswa untuk memilih cara membuat produk tugas, memberikan kemerdekaan kepada siswa dalam berekspresi dan mengemukakan pendapat.

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Dalam menentukan sebuah kebijakan maupun keputusan seorang pemimpin pembelajaran harus memperlakukan murid-murinya secara adil tanpa melihat secara subjektif. semua murid adalah hebat dengan bakatnya masing-masing. Jika dalam pengambilan keputusan kita berat sebelah maka murid akan merasa bahwa guru tersebut pilih kasih. seperti saat guru selalu menunjuk murid yang dirasa pintar untuk tampil terus didepan kelas, tentu saja akan menimbulkan rasa iri dihati beberapa murid yang berakibat murid-murid lain merasa rendah diri sehingga tidak mau menampilkan performa terbaik mereka karna hasilnya akan sama saja. Penilaian yang tidak objektif akan merugikan murid secara perlahan-lahan yang pada akhirnya mempengaruhi pemikiran mereka akan sesuatu.


Kesimpulan akhir yang dapat ditarik dari pembelajaran modul kali ini dan keterkaitannya dengan modul sebelumnya
Pada modul 3.1. Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran ini diharapkan kita sebagai pendidik dapat dengan seksama memikirkan apa yang terbaik untuk murid. Sesuai pada modul 1.1..Refleksi pemikiran Ki.Hajar dewantara mengingatkan kita bahwa hakikat dari pendidikan itu sendiri ialah kebahagiaan dan keselamatan murid. Guru diberikan dasar berpikir bahwa proses pengajaran, mendidik dan melatih yang akan dilakukan adalah semata-mata mempersipkan murid secara psikis dan fisik mengapai kebahagian dan keselamatan mereka. Untuk mengapai itu semua guru diperkenalkan akan apa sebenarnya nilai dan peran mereka yang sebenarnya dalam pendidikan yang digalakkan ini. Yaitu bukan untuk hanya sekedar mengajar menghabiskan jam langsung pulang tapi lebih daripada itu. Guru diarahkan mempunyai Visi, misi dan tujuan yang jelas untuk dicapai bersama dengan murid sebagai cita-cita yang harus diwujudkan dengan sungguh-sungguh. Dalam pencapain kearah cita-cita tersebut guru senantiasa selalu berusaha menghadirkan lingkungan belajar positif lewat budaya-budaya positif kelas, memenuhi kebutuhan belajar murid lewat pembelajaran berdiferensiasi, mengisi jiwa siswa lewat pengenalan emosi dan pengolahannya serta digali dan digali potensi murid dan guru lewat proses coaching. 

PGP is the best




Oleh: Novi Puspitasari ,S.Pd

Jurnal Monolog

  

Jurnal Monolog

Oleh: Novi Puspitasari, S.Pd

 

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Siapa saya dalam pembelajaran?

Benar Salah adalah pilihan hidup yang akan selalu kita cari jawabannya. Saat pencarian terjadi menuju kearah pembuktian, sering kita dihadapkan pada 2 pilihan, apakah itu “Benar dan Salah”. Apa yang kita pikir benar belum tentu itu baik dan apa yang kita pikir itu baik belum tentu itu benar, bukankah hal itu cukup membingungkan, bukan?.

 Kita sadar bahwa manusia itu sempurna karna ketidaksempurnaanya. Penuh dengan problematika kehidupan yang mengharuskan mereka memilih pada pilihan, baik mudah ataupun sulit, peduli atau tidak peduli dan lain sebagainya. Dari proses memilih inilah kita belajar untuk terus berbenah diri, bercermin serta intropeksi diri, siapa saya, melangkah kearah mana saya dan apa tujuan saya?.

Dalam ketidaksempurnaan ini saya hadir sebagai seorang Pendidik yang dituntut sempurna dengan segudang kompetensi. Menjawab tantangan perkembangan Zaman yang kian pesat dengan perkembangan teknologi serta peradaban yang kian maju. Menjadi pendidik yang memiliki kepekaan alat indera sehingga mampu menganalisa, melakukan pemetaan kebutuhan belajar siswa, menghadirkan pembelajaran yang berdiferensiasi, menjadi coaching  hingga pada akhirnya diharapkan mampu memegang tongak estafet kepemimpinan dengan keterampilan mumpuni dalam mengambil sebuah keputusan. Mampu mengambil keputusan yang tepat untuk pendidikan yang lebih bermartabat. 

Cara Berpikir Saya Sebagai Pemimpin

Proses berpikir yang intens dan fokus menjadikan saya layaknya seorang filsuf yang berpikir dulu sebelum bertindak (Think before act). Filsuf bercirikan pada rasionalitas artinya pemikiran tersebut dapat diterima secara akal sehat, kreatif-inovatif yaitu membangun ketajaman akal budi untuk mengeluarkan diri pada kebekuan inspirasi dan lemahnya ide-ide moral. 

Waktu kecil saya sering membaca buku yang mengatakan “ dengarkan kata hati mu karna hati mu takkan pernah bohong”. Sejak saat itu jika ada masalah dalam hidup, saya sering bermonolog dengan hati. Proses bermonolog dengan hati membuat saya nyaman dan aman tanpa takut di judge oleh orang lain. Sehingga saya larut dalam dunia imajinasi, tanpa teman, tanpa saudara sembari menulis puisi ditemani senja dan rembulan.

Saat dewasa saya mulai bergelut dalam dunia pendidikan yang makin membuat saya larut dalam semangat kerja dan karir. Memasuki tiap lini dan jiwa pendidikan membuat saya bertekad untuk hidup lebih baik lagi. Merubah imajinasi menjadi kreatifitas, menyendiri untuk reflektif diri, berpikiran positif dan terbuka untuk tiap tawaran kolaborasi. Merancang prospek kedepan, membangun mimpi dengan semangat untuk melihat pendidikan berlari kearah yang lebih baik dan maju. Menjadi pemimpin untuk diri sendiri, menjadi pemimpin untuk orang lain.

Menjadi pemimpin tidaklah mudah, pemimpin adalah kepala yang akan memimpin dan menunjukkan jalan kearah Visi, memperjelas langkah kearah misi dan dengan pasti menyadari tujuan apa yang harus tergapai baik untuk masa kini hingga masa-masa yang akan datang. Tanpa pemimpin yang tepat kita tidak akan mampu berjalan kearah Visi, Misi dan Tujuan yang kita impi. 


Apa Itu Dilema?

Pernahkah saya dilema dalam hidup?

Jawabannya tentu saja "Iya".

Selama kita hidup maka akan terus diikuti oleh problematika kehidupan. Tidak ada satu orang pun yang hidup tanpa dilema.

Dulu saya mengartikan dilema ialah keadaan pusing karna harus memilih antara 2 pilihan yang sama-sama sulit.

 “Dilema” adalah istilah umum yang merujuk kepada suatu kondisi yang menyulitkan yaitu munculnya sebuah masalah yang menawarkan dua kemungkinan, dimana keduanya sama-sama tidak praktis untuk diterima.(Wikipedia)

Apa itu Etika?

Pengertian Etika, Bertens; Etika berasal dari bahasa Yunani Kuno, Ethos dalam bentuk tunggal, artinya adat istiadat, akhlak yang baik.

Lalu apa itu Dilema Etika?

Dilema etika adalah situasi ketika seseorang dihadapkan pada keputusan yang saling berbenturan kepentingan.

Bagaimana saya memandang setiap paradigma?

1.   .Individu Melawan Masyarakat

Paradigma ataupun pandangan hidup yang saya Yakini dalam menjalani kehidupan selama ialah berkata Jujur dan benar. Lebih baik diam daripada harus berbohong. Menjalani hidup yang penuh liku dan keras ini sangatlah tidak mudah bagi saya. Senyum dan tawa sering terlihat dari bibir mereka yang mengatakan sungguh idealis dan naifnya  anda. Apakah salah jika kita berusaha untuk menjadi baik dengan cara yang kita yakini? Apakah salah jika kita senantiasa tersenyum padahal hati kita bersedih? Pura-pura kuat padahal sebenarnya kita sangat rapuh dan membutuhkan sandaran? Tapi tetap diam karna merasa itu adalah urusan pribadi yang tidak perlu diekspos atau diumbar-umbar?

Kerasnya hidup membuat saya tumbuh menjadi sosok yang mandiri dan Tangguh. Tangguh bukan karna pandai melawan  musuh dengan lisan dan fisik tapi tangguh karna mampu melawan ego diri demi kepentingan orang banyak. Orang banyak harus dimengerti, Bukankah hati sendiri yang harus dimengerti?. Orang banyak ingin dimengerti walau tanpa mereka minta. Apa saya harus peduli?.Untuk menjadi orang baik maka saya harus menjadi orang yang peduli, orang yang peduli akan selalu memikirkan kepentingan orang disekitarnya. Jika saya peduli maka Allah akan sayang pada saya, bukankah itu sudah lebih dari cukup?

2.     Kebenaran Melawan Kesetiaan

Kemarin adalah ilusi dan seolah-olah mimpi yang terus membayangi. Layaknya sebuah kenyataan yang terus menghantui, kehidupan yang tidak pernah diinginkan terjadi. Tapi siapa yang bisa menolak takdir kehidupan? Saat saya harus memilih antara kebenaran dan kesetiaan, yaitu berada disamping orang tua yang saya sayangi atau memegang teguh kebenaran yang harus saya junjung tinggi. Pilihan itu sangat sulit, tapi saya harus memilih. Membuat pilihan yang sulit. Tapi kembali lagi bahwa ini adalah kehidupan yang harus saya jalani. Jalani sampai akhir dan belajarlah untuk menerima setiap resiko keputusan yang diambil.

Keyakinan adalah identitas diri yang diperoleh dari proses hidup yang dijalani. didalamnya ada cinta, kasih, benci dan beragam rasa yang lain. Rasa yang akan kita pahami dari setiap proses hidup yang  yang tidak dapat kita tukar hanya karna sebuah keegoisan yang harus dituruti, Salah akan tetap salah dan suatu Ketika akan menampakkan diri dengan sendirinya. Tapi keyakinan diri jika sekali kita tinggalkan maka seterusnya kita akan mentolerir setiap kesalahan.

3.      Keadilan Melawan Rasa Kasihan

Rasa kasihan dan simpatik sudah melekat dalam diri bangsa, Penduduknya paling ramah terhadap orang luar. Itu adalah pengakuan yang sering saya dengar saat turis-turis bule bertandang ke negara saya. Pribadi yang gampang tergugah akan penderitaan orang lain dan gampang pula tersulut emosi hanya karna kata-kata yang dikeluarkan oleh orang yang tak beretika.

Saat negara Jepang malu dengan budaya membuang sampah sembarangan dan melanggar peraturan. Orang-orang disekitar saya masih bisa berjalan santai sembari membuang sampah sembarang tempat, berkompromi dengan peraturan yang dibuat. “Peraturan dibuat untuk dilanggar”. Kalimat ini terngiang-ngiang ditelinga tapi tidak sampai membuat saya paham walaupun sering mendengarnya.

Saya termaksud orang yang cepat merasa tersentuh dan kasihan dengan penderitaan orang lain, cepat menangis saat menonton cerita sedih ditelevisi ataupun membaca cerita romansa yang berakhir tragis. Efeknya, saya sering lupa memperhatikan Kesehatan diri sendiri karna terlalu forsir memperhatikan kepentingan orang lain.

Paradigma dibuat berdasarkan pola pikir dari orang dimana mereka berasal. Seakan terlihat seperti dua sisi mata pisau yang saling bertentangan tapi kenyataan sisi itu sama dan susah dimengerti. Sering saya mendengar nyanyian keadilan menggema ditelinga para jelata tapi tetap keadilan bagai paradigma yang samar dan rasa kasihan terlihat dominan untuk menutupi setiap kesalahan.

Tapi saya yakin keadilan itu berdiri sendiri dan Allah besertanya, Dan dititipkan rasa keadilan itu pada hati tiap-tiap pemimpin termaksud hati pemimpin pembelajaran. Dimana pendidik tidak akan memandang muridnya berbeda berdasarkan status, harkat dan martabat mereka. Tapi adil disini murni karna setiap murid dianggap seperti anaknya sendiri yang akan diperlakukan sama.

Kembali lagi kita mudah menunjukkan empati semudah kita menunjukkan rasa tidak suka.

4.    Jangka Pendek Melawan Jangka Panjang

Saat pengambilan keputusan harus diperhatikan juga adakah kaitan keputusan yang kita ambil ini dengan jangka Panjang atau masa yang akan datang. Bukan hanya kita berpikir untuk saat ini saja. Ada kalanya hasil yang kita putuskan sekarang itu akan berpengaruh atas diri kita dimasa yang akan datang. Jangan sampai kita salah mengambil keputusan yang akan kita sesali dimasa-masa yang akan datang. Dalam kasus dilema etika yaitu benar lawan benar, kita dihadapkan pada nilai-nilai kebajikan yang pada hakikatnya itu benar, seperti membantu orang lain dengan alasan memang orang itu patut dibantu. Berbeda dengan bujukan moral yaitu salah lawan benar yang mana dalam kasus bujukan moral ini terdapat nilai-nilai moral yang saling bertentangan didalamnya yaitu disatu sisi kita memegang nilai-nilai kebajikan dan dilain sisi kita dihadapkan pada bujukan untuk melanggar peraturan.

Sekali lagi, dalam mengambil keputusan pikirkanlah matang-matang, jangan tergesa-gesa, mudah dipengaruhi oleh orang lain, berpikirlah secara jernih serta perhatikan 9 langkah pengujian keputusan sebagai panduan dalam menentukan keputusan, Adapun 9 langkah pengujian tersebut terdiri dari;

1.      Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

2.      Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

3.     Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

4.     Pengujian benar atau salah yang terdiri dari Uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji publikasi, uji panutan/idola

5.     Pengujian paradigma benar lawan benar’

6.     Melakukan prinsip resolusi

7.     Investigasi Opsi trilemma

8.     Buat keputusan

9.      Lihat lagi keputusan dan refleksikan.

Prinsip Apa Yang Bisa Saya Ambil?

Adapun prinsip-prinsip pengambilan keputusan yang bisa diterapkan ialah:

1.    Prinsip Berbasis Hasil akhir  (End Bassed Thingking)

Dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran seorang pendidik senantiasa melihat apa hasil akhir yang akan berdampak pada seluruh siswa. Artinya prinsip ini mengutamakan kepentingan seluruh siswa didik bukan hanya individu saja.

2.     Prinsip Berbasis Peraturan (Rules Bassed Thingking)

Dalam berpikir kita senantiasa mengikuti prinsip ataupun aturan-aturan yang telah ditetapkan.

3.     Prinsip Berbasis Rasa Peduli (Care Bassed Thingking)

Berpikir pada prinsip ini ialah memutuskan sesuatu dengan harapan orang lain akan berpikiran sama seperti apa yang kita inginkan.

Bagaimana Cara Saya Mentransfer Ilmu?

1. Cara yang paling efektif yang bisa dilakukan dalam mentransfer ilmu ialah dengan mengajak guru untuk sharing (tukar pikiran ringan). Mendengarkan pendapat mereka lalu memahami paradigma seperti apa yang mereka yakini. Kita bisa masuk kedalam pemikiran seseorang tanpa menekan,  menempatkan diri sebagai rekan kerja yang tidak selalu mendikte dan menganggap kita paling benar. 

2. Mengajak guru untuk berkolaborasi dalam pembelajaran dan mengambil keputusan yang disepakati bersama-sama.

3. Melakukan sosialisasi tentang ilmu-ilmu yang diperoleh dalam sebuah forum maupun kumpulan kelompok kerja guru

4. Menunjukkan bukti kerja nyata dengan memperlihatkan hasil kerja dalam bentuk karya nyata yang bisa langsung dilihat oleh orang lain.

Langkah Awal Yang Bisa Saya Ambil sebagai pemimpin pembelajaran

1. Menentukan prospek apa yang ingin dicapai oleh masing-masing siswa. Saya ingin sekali mendengarkan apa yang menjadi menjadi harapan-harapan siswa dan pembelajaran seperti apa yang mereka inginkan lewat diskusi. Mencatat dan mencoba untuk merealisasikannya. Tentunya disesuaikan dengan pembelajaran yang mereka pelajari.

2. Membuat hal-hal baru yang bisa lebih membuat siswa semangat belajar. Misalnya membiarkan mereka menentukan posisi kursi seperti apa yang mereka inginkan. menata sudut literasi seperti apa yang mereka mau dan lomba apa yang paling ingin mereka lakukan dikelas. Intinya mereka akan saya ajak untuk belajar membuat keputusan penting. Tentunya saya akan berkolaborasi dengan pendamping saya dikelas.

Rencana Penerapan Langkah-langkah

Diskusi dengan siswa : Rabu, 16 Februari

Realisasi Keinginan siwa : Kamis, 17 Februari

Membuat Hal Baru yang berbeda : Sabtu, 19 Februari

Sharing dengan rekan guru : Rabu, 23 Februari

Rekan Kerja yang bisa mendampingi : Ibu Ida Julianti, S.Pd


Ada (A) / Tidak Ada (TA)

1

Isi:Apa rencana ke depan dalam menjalani pengambilan  keputusan yang mengandung unsur dilema etika? Bagaimana Anda bisa mengukur efektivitas pengambilan keputusan Anda? Siapa yang akan membantu atau mendampingi Anda? 

 Ada, cara mengukurnya yaitu banyaknya dukungan siswa dan respon positif yang ditunjukan siswa. Yang akan membantu Ibu Ida Julianti

2

Isi: Bagaimana Anda akan menerapkan pengambilan keputusan seperti ini pada lingkungan Anda, pada murid-murid Anda, dan pada kolega guru-guru Anda yang lain? Kapan Anda akan menerapkannya?

 Jika yang saya lakukan dalam kelas berhasil maka saya akan menyampaikan hal tersebut pada rekan guru yang lain. Secepatnya

3

Teknis: Kejelasan suara/tulisan di video/blog naratif Anda, format apa yang akan gunakan, sudahkah Anda mengujinya/membacanya dan melihat hasilnya/membayangkan bila orang lain membaca tulisan Anda?

 

4

Teknis: Durasi waktu/panjang tulisan, apakah sudah diuji untuk maksimal dan minimal waktu berbicara, atau apakah sudah ditinjau isi dan panjang tulisan Anda, dan kepadatan/intisari  materi yang Anda ingin sampaikan?


Sabtu, 05 Februari 2022

 JURNAL MINGGUAN KE 17


OLEH : Novi Puspitasari, S.Pd


Minggu ini tepatnya tanggal 2 Februari kami mengawali tugas CGP dengan melakukan Pre Test awal modul 3. Saya sangat penasaran dengan materi kali ini karna pastinya materi PGP selalu mampu membuat saya tertarik. Terbukti, materi yang disampaikan di PGP  kali ini berhasil mencuri perhatian saya lebih dalam lagi. Sangat menarik, karna memang materi kali ini berkaitan dengan tugas guru sebagai pemimpin pembelajaran. Pemimpin yang harus mampu mengambil keputusan diantara dilema etika dan bujukan sosial yang ada disekitarnya. Pemimpin yang memiliki nilai-nilai kebajikan universal didalam menjalankan kepemimpinannya. Nilai-nilai kebajikan tersebut seperti keadilan, kejujuran, kasih sayang, kebenaran, toleransi, tolong menolong dan lain-lain. 

Belajar mengambil keputusan yang tepat memang tidaklah mudah. disamping kita harus paham dengan keputusan apa yang kita ambil juga keputusan tersebut harus dapat dipertanggung jawabkan karna akan bertampak pada kehidupan seseorang. 

Sangat menarik sekali apabila mendiskusikan sebuah permasalahan yang berkaitan dengan dilema etika sosial. Dimana adakalanya kita dihadapkan pada 2 atau lebih nilai kebajikan yang saling bersinggungan. Dimana disatu sisi kita berpegang pada nilai kejujuran yang kita yakini tapi disisi lain ada teman atau sahabat kita yang meminta bantuan untuk menyembunyikan kecurangannya. Disinilah dilemanya, yaitu dimana kita harus memilih antara nilai-nilai yang diyakini atau setia pada persabahatan yang dilalui selama ini. 

Diskusi yang alot dan penuh pro dan kontra terjadi antara kami CGP saat membahas tentang beberapa kasus nyata yang berkaitan dengan aturan dan kebijakan. Sungguh 2 hal yang mampu membuat wawasan kami terbuka dan menyadari bahwa sebuah keputusan yang baik adalah keputusan yang tidak sembarangan diputuskan. 
Sebuah keputusan yang baik tentunya sudah melalui pemikiran yang matang, sudah dipikirkan baik dan buruknya serta apa manfaatnya untuk orang lain.
 

Waktu

Waktu berlalu Tinggalkan pedih perih Bila ingat kenangan lalu Tak menentu kemana hati melangkah  Tak terasa banyak hal yang sudah kulalui  B...