Senin, 18 April 2022

Kelompok Gemar Literasi Kelas 4A


Aksi Nyata 3.3.

Program Yang Berdampak Bagi Murid

(Kelompok Gemar Literasi)

oleh : Novi Puspitasari, S.Pd

Fact = Peristiwa

A. Latar Belakang

Literasi dan numerasi adalah kunci bagi anak dalam membuka cakrawala berpikir mereka sejak dini. Mulai dari pengajaran yang diberikan oleh ibu dirumah hingga pada literasi dasar yang diajarkan guru di sekolah. Literasi menjadi fondasi awal anak dalam mengenal ilmu pengetahuan, memahaminya, hingga pada tahap pengaplikasian dan analisis. Literasi dan belajar adalah dua hal penting yang harus dibiasakan sejak dini pada anak. Layaknya kebutuhan primer yang harus dipenuhi, otak manusiapun harus tetap diisi dan dilatih dengan literasi dan belajar. 

Dewasa ini, arus globalisasi dan perkembangan zaman semakin maju dengan pesat  sehingga Sistem Pendidikan juga harus mengakomodir dan bersinergi dengan arus perkembangan global tersebut. Literasi tidak hanya menempati ruang lingkup skala kecil tapi semakin meluas dan kopleks seiring kemajuan ilmu dan teknologi.  

"Literasi adalah kemampuan menciptkan sebuah produk" tutur bapak Muhammad Syarif Bando, pada saat pembukaan Gedung Perpustakaan Daerah Kota Bima pada hari selasa, 22 Maret 2022 di Kota Bima. Tanpa berliterasi yang baik dan benar mustahil kita dapat menghasilkan suatu produk. Produk-produk canggil IT dihasilkan dari proses literasi para penciptanya, merakit dan menjadikannya produk yang berguna bagi semua orang diseluruh dunia. Maka sangat diharapkan murid-murid kita dapat menghasilkan sebuah produk dari kegiatan berliterasi tersebut.

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari lingkup pergaulan masa kini. Pergeseran tatanan sosial tidak bisa dielakan, dimana produk IT seperti gadget/ Handpohe menjadi koneksi antar manusia. Dalam perkembangannya, IT membawa dampak yang cukup signifikan bagi umat manusia, baik dampak positif maupun dampak negatif, informasi diseluruh belahan dunia dapat kita ketahui hanya dari sekali klik dengan menggunakan ponsel pintar, ilmu, Sains dan segala macam hal mampu kita lihat secepat mungkin. Tapi dampak negatifnya ialah interaksi sosial menurun, kita lebih asyik dengan dunia maya, duduk berjam-jam dengan gadget daripada berinteraksi langsung dengan teman maupun kerabat dalam dunia nyata. 

Pentingnya literasi sebagai pembelajaran sepanjang hayat, penghasil produk kebutuhan umat manusia, membuat kami berkewajiban untuk mengambil peran dalam menggaungkan pentingnya literasi dalam program yang kami buat dan rancang ini. Meminimalisir dampak negatif penggunaan gadget dan membuat murid aktif berinteraksi sosial secara langsung dalam kegiatan kelompok menjadi latar belakang kami memilih program Kelompok Gemar Literasi sebagai tindak nyata yang kami harapkan mampu menjawab tantangan untuk program yang berdampak pada murid dan melatih kepemimpinan murid. 

Disamping itu " Kelompok Gemar Literasi"ini kami harapkan kelak mempu membawa perubahan dalam peningkatan Literasi murid dan terciptanya produk/ karya individu atau kelompok di SDN 55 Dara Kota Bima. 

B. Aksi Nyata

a. Nama Program 

Kelompok Gemar Literasi adalah nama program yang kami pilih dalam aksi nyata 3.3 yaitu program yang berdampak bagi murid. Program Kelompok Gemar Literasi ini merupakan program kelas 4a yang dirancang untuk memberikan ruang kepada murid untuk menunjukkan siapa mereka lewat sebuah kelompok literasi. Dalam kelompok ini murid-murid akan bebas mengemukakan ide, memilih maupun mengekspresikan diri lewat literasi kegemaran yang murid sukai. Disamping itu, murid juga bisa belajar dari pengalaman maupun kelebihan teman-teman baik satu kelompok maupun teman dari kelompok lain lewat unjuk produk.

b. Faktor Pendukung Program 

1. Modal Manusia. 
Kepala sekolah, guru dan murid adalah faktor pendukung utama kesuksesan kegiatan ini. 
2. Modal Sosial
Hubungan dan perhatian penuh dari orang tua murid dan interaksi yang harmonis dari semua guru yang ada di sekolah yang mempunyai kesepahaman yang sama tentang pentingnya Literasi.
3. Modal Finansial
Sekolah memaksimalkan penggunaan dana dalam rangka melayani kebutuhan murid dalam berliterasi dengan menyediakan tikar untuk membaca saat murid-murid berkegiatan literasi out door.
4. Modal Fisik
Lingkungan sekolah yang asri dan nyaman, bangunan sekolah dan kelas yang luas memungkinkan murid-murid dapat memilih spot ternyaman dalam berliterasi.

c. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Kelompok Gemar literasi ini  dilaksanakan setiap hari Senin, Kamis dan Sabtu mulai jam 09.00 s/d 09.30. Tempat Pelaksanaannya dibebaskan, bisa didalam kelas, teras kelas maupun diluar kelas seperti halaman belakang dan depan sekolah. 

d. Mitra Utama

Mitra utama Kegiatan Kelompok Gemar Literasi ini ialah murid dan guru pendamping.

e. Tahapan kegiatan 

Adapun tahapan kegiatan Kelompok Gemar Literasi ini ialah 

1. Tahapan Diskusi: 
  - Guru mengajak murid untuk mendiskusikan hal-hal menarik apa yang ingin dilakukan murid di dalam kegiatan kelompok Gemar literasi sekolah dan apa yang bisa guru lalukan untuk mendukung keinginan murid tersebut (Merdeka).
2. Tahapan Mendengarkan:
- Guru mendengarkan dan mencatat hal-hal  apa yang diinginkan murid dalam kegiatan kelompok gemar literasi nanti
3. Tahapan Mengelompokkan 
- Murid menentukan sendiri dengan kelompok mana mereka akan bergabung
4. Tahapan Mengapresikan
-  Guru mengajak murid untuk mengenal lebih dalam lagi apa yang murid inginkan dan mampu mengekspresikan keinginan tersebut didepan kelompok mereka masing-masing.
dalam tahapan mengapresikan ini murid diberikan ruang yang lebih luas lagi selain hari senin, kamis dan sabtu juga ada kegiatan budaya literasi setiap 1 minggu sekali,  puncak literasi 1 bulan sekali dan Market day 3 bulan sekali. 

C. Hasil Aksi Nyata

1. Terlaksananya Kegiatan Kelompok Gemar Literasi

Kegiatan K'Gelis ini sudah dimulai pada hari senin 4 April 2022 jam 09.00 tepatnya dihari kedua bulan puasa. Satu kelompok Gelis ada yang terdiri dari  5 sampai 7 orang murid. 
Kelompok Gelis yang pertama menamakan diri mereka " Rainbow the best" nama yang mereka sepakati bersama. Seukuran kelas 4 pemberian nama untuk kelompok sudah menggambarkan bahwa murid sudah mampu menentukan kepemilikan atas kelompok. Sungguh luar biasa, Rainbow yang berarti pelangi, warna-warni yang menunjukkan diri mereka yang beragam kegemaran Literasinya. 
Sebut saja Keiko, dia sangat senang menggambar dan mampu menggambar dengan cepat dan baik, Enggal yang sangat senang menulis puisi, Venan yang sangat suka sekali membaca, Rafael yang suka berhitung perkalian dan Melani yang suka membaca. Pada kesempatan pertama Keiko yang menunjukkan dirinya lewat sebuah gambar. Keiko memilih Literasi gambar dan  dengan percaya diri keiko berdiri didepan teman-teman satu kelompok guna menceritakan gambarnya, lalu ada Enggal yang bertanya tentang gambar keiko dan kegemarannya bahkan Enggal juga meminta Keiko untuk mengajarinya dan teman-teman lain bagaimana menggambar boneka beruang tersebut. Boneka beruang adalah boneka kesukaan Keiko dan pada kesempatan Gelis kali ini teman-temannya jadi tahu apa kegemaran Keiko dan kemampuannya. Sementara dari beberapa teman keiko yang diajari menggambar tadi ternyata ada juga yang ternyata baru menyadari bahwa dia juga bisa menggambar seperti Keiko.

Pada tahap awal ini murid-murid masih sekedar mengenali apa yang masing-masing mereka sukai, saling mengenal satu sama lain lebih dekat lagi. Tapi sebenarnya kelompok Gelis ini akan mengarah kepada menggali lebih dalam lagi potensi murid sehingga murid akan mengenali apa sebenarnya kekuatan yang dimiliki, kekurangan apa yang mesti diasah menjadi sebuah kekuatan. titik akhir dari kegiatan kelompok Gemar Literasi ini ialah murid-murid bisa menghasilkan sebuah produk yang bisa mereka buat sendiri baik secara individu maupun kelompok. 









Dalam program Kelompok Gemar Literasi ini pula, Voice (Suara), Choice (pilihan) dan 0wnership (Kepemilikan), menjadi faktor penting untuk melatih kepemimpinan murid. Adapun Voice murid dimunculkan lewat cara; murid diberikan kebebasan untuk  menunjukkan kegemaran literasi mereka masing-masing dan memberikan ide literasinya sendiri didepan teman-teman, ide nama kelompok dll.  Choice dinampakkan dengan murid bebas menentukan dengan kelompok mana dia bergabung dan memilih menjadi apa dalam kelompok masing-masing. Ownership ditunjukkan dengan tanggung jawab murid terhadap kelompok literasi mereka dan produk apa yang akan mereka tunjukkan disaat literasi puncak 1 bulan sekali dan produk keterampilan apa yang bisa diikutsertakan dalam kegiatan Market day sekolah yang dilakukan 3 bulan sekali. 




Feeling = Perasaan

Rabu, 30 Maret 2022, saya mencoba menggaungkan semangat literasi ini dalam kegiatan budaya Literasi sekolah yang dilaksanakan setiap hari Rabu. Dan Alhamdulillah warga sekolah merespon positif penyampaian program "Kelompok Gemar Literasi " yang disampaikan oleh ibu Novi Puspitasari, S.Pd. Salah seorang guru kelas 1C, Ibu Merry Maghdalena mengungkapkan secara langsung pada kepala sekolah bahwa "sangat bagus jika kita menerapkan kelompok literasi dalam kelas". Saya selaku pencetus ide ini merasa sangat bahagia karena mendapat dukungan dari semua guru dan murid. Kedepannya saya harus lebih menggiatkan literasi menjadi program sekolah SDN 55 Dara Kota Bima.

Finding = Penemuan

Dalam kegiatan Kelompok Gemar Literasi pada awalnya antar murid terlihat kaku dan tidak begitu saling mengenal dengan baik. Tapi lewat kegiatan ini murid bisa lebih mengenal teman-temanya seperti apa kesukaan mereka, seperti apa kegemaran karna memang pada kegiatan ini murid-murid diharapkan lebih terbuka dan menunjukkan dirinya dengan bebas. Menampilkan apa yang mereka inginkan.   

Sebagai walikelas pun saya menyadari bahwa selama ini saya belum sepenuhnya mengenali dan dekat dengan murid secara utuh. Disaat kebersamaan antar kita semakin dekat maka akan lahir kenyamanan dalam berinteraksi sosial. Sungguh penemuan yang sangat berharga buat saya, dimana sebagai walikelas saya bisa lebih mengenal murid-murid lebih baik lagi. Murid-murid juga bisa menunjukkan bakat dan minatnya secara leluasa sesuai dengan kemauan mereka.

Hambatan yang saya dapatkan ialah tentunya dalam pelaksanaan kegiatan ini membutuhkan pendampingan yang intens dari guru pendamping guna memberi dorongan untuk murid-murid menemukan minat dan bakat terpendam. Didalam kelas yang terdiri dari 39 orang murid dengan 1 orang walikelas dan 1 orang guru pendamping tentunya ini masih kurang memadai. Maka dengannya kami cukup ekstra kerja keras dalam menuntaskan dan meningkatkan program Kelompok Gemar Literasi ini dengan pengaturan jadwal dan prioritas. Intinya, yaitu bagaimana kami mampu menampilkan kelompok ini dalam kegiatan Puncak Budaya Literasi sekolah yang dilakukan dalam satu bulan sekali dan hasil keterampilan yang mampu dipasarkan dalam 3 bulan sekali. untuk mengukur tingkat pencapaian dan keberhasilan kegiatan ini dapat kami ukur dari aktifnya murid dalam proses kegiatan literasi serta produk-produk yang mampu mereka hasilkan baik perindividu maupun kelompok.

Future : Penerapan Kedepan

Untuk kedepanya saya selaku Walikelas 4A, ingin terus berinovasi dalam pembelajaran yang berdampak untuk murid-murid saya. lLiterasi semakin berdampak untuk murid dan menjadi kebiasaan murid-murid setiap harinya hingga tiada hari tanpa berliterasi baik membaca, menulis dan berhitung. Disamping itu program Kelompok Gemar Literasi ini bukan hanya diterapkan oleh kelas 4A tapi juga oleh kelas-kelas lain yang ada di SDN 55 Dara Kota Bima. terutama kelas 2 yang mempunyai jam masuk lebih lama dari kelas yang lainnya. 








Jumat, 11 Maret 2022

 

KONEKSI ANTAR MATERI

 

A. Koneksi Modul 3.2. Pengelolaan Aset dengan modul-modul sebelumnya yaitu modul 1, 2 dan 3.1.

 

            Koneksi Dengan Modul 1 

1.1.        Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia KI. Hadjar Dewantara

Pemikiran Ki.hadjar Dewantara tentang Pendidikan dan Pengajaran lahir dari rasa kepedulian beliau akan nasib bangsa Indonesia pada saat itu yang terjajah. Bagaimana Pendidikan bisa sejajar dan menyentuh segala lapisan strata sosial. Mind Set/ pola pikir beliau adalah pola pikir seorang guru yang memikirkan nasib anak didiknya dimasa depan. Terbentuk dan mengakar pada Pola Pikir bahwa Pendidikan itu sejatinya adalah memerdekakan artinya siapapun anak tersebut mempunyai hak yang sama dalam merasakan Pendidikan, mempunyai hak yang sama untuk menjadi apapun yang mereka inginkan selama itu tidak melanggar kemerdekaan orang lain untuk merasakan kebebasan yang sama. Titik tertinggi dari makna Pendidikan ialah mampu mengantarkan anak-anak pada kebahagiaan dan kesejahteraan hidup siswa baik sebagai individu lebih-lebih dalam kelompok pergaulan yang lebih luas lagi.

 

Pengajaran adalah proses menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa didik. Yang menyampaikan ilmu ini ialah guru. Guru bertindak sebagai pemimpin dalam ruangan kelas, pemimpin yang akan mengajarkan Ilmu pengetahuan kepada siswa didik. Menurut KHD ada 3 peran guru dalam memimpin pembelajaran yang dikenal dengan “Laku Telu” yang dikenal dalam frasa Jawa, Ing ngarso sung tuladha berada didepan memberi teladan, Ing Madya mangun karsa berada ditengah memberi indpirasi dan Tut Wuri handayani berada dibelakang memberi dorongan.

Dari pemikiran ini saya melihat bahwa fungsi guru dalam pemeblajaran bukan hanya sekedar mengajar dalam makna memberi ilmu saja tapi juga bagaimana guru diharapkan menjadi suri tauladan, contoh baik yang bisa dilihat dan ditiru oleh siswa didik, menanamkan karakter dan nilai-nilai kebajikan dalam diri anak. Pemberi inspirasi dengan membimbing anak pada berbagai kegiatan pembelajaran yang menjadikan mereka kreatif, inovatif, berpikir maju dengan ide-ide baru yang berguna untuk kehidupan mereka serta memberi  dorongan agar anak mampu menjadi pribadi bahagia seperti yang dicita-citakan sehingga potensi anak yang tersimpan dalam dirinya dapat tergali dan Nampak dipermukaan.

 

Pemikiran ini menunjukan bahwa KHD adalah pendidik sejati yang menjadikan diri sebagai pelayan sesungguhnya dalam dunia Pendidikan. Koneksi antar modul 1.1. Filososi KHD dengan modul 3.2. Pengelolaan aset ialah  Bagaimana Mindset Aset modal manusia yaitu guru dapat mempunyai pola pikir yang diarahkan pada proses mendidik yang melayani sepenuh hati, menuntun siswa, memberikan pengajaran terbaik dan bermakna sehingga siswa didik merasakan kebahagiaan, bebas berimajinasi, bebas menjadi apa yang mereka inginkan, tumbuh dan kembang secara menyeluruh sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya.

 

1.2.       Nilai-Nilai dan Peran Guru Penggerak

Kaitan modul 1.2 nilai-nilai dan peran guru penggerak dengan modul 3.2. Pengelolaan Sumber Daya ialah bagaimana guru mampu mereflektifkan diri akan eksistensinya menjadi seorang guru, mulai dari niat dan pola pikir, cara mengajar apakah sudah berpusat pada siswa atau tidak, sudah menyeimbangkan antara cipta, rasa dan karsa,  atau sudah adilkah kita pada siswa didik?. Dengan kita menerapkan nilai-nilai guru penggerak yaitu reflektif, mandiri, inovatif, kolaborasi dan berpihak pada siswa  berarti kita sudah  senantiasa berpikir untuk menempatkan diri sebagai aset/ modal manusia yang kompeten mendukung peningkatan mutu Pendidikan disekolah.

 

1.3.       Visi Guru Penggerak

Didalam modul 1.3. Guru diajak untuk mempunyai impian dan cita-cita. Guru bersama dengan siswa berusaha menwujukan cita-cita tersebut semata-mata untuk menghadirkan pembelajaran yang berpihak pada siswa. Melakukan pendekatan Inquiri Apresiatif BAGJA dalam memprakarsai perubahan. BAGJA ini sejalan dengan modul 3.2. yaitu pengelolaan asset. Dimana dalam modul 3.2 kita diharapkan menggunakan pola pikir Asset based thingking dalam mengelola asset yang ada di kelas dan juga disekolah kita. Bagaimana membuat perubahan dalam kelas dengan memanfaatkan seluruh asset/ kekuatan yang dimiliki dalam kelas, baik guru, siswa, ruangan kelas, meja, kursi, taman, speaker kelas, kesepakatan kelas, buku-buku untuk menunjang tercapainya Visi dan Misi kelas.

1.4.       Budaya Positif

Pada Modul 3.2. Pengelolaan asset ada salah satu asset yang sangat mendukung terciptanya budaya positif dilingkungan sekolah yaitu aset sosial. Aset sosial yaitu bagaimana sekolah mampu menghadirkan lingkungan belajar positif lewat interaksi sosial antar warga sekolah. Hasil rapat yang disepakati bersama dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab merupakan hasil interaksi aset sosial yang positif. Dengan Kepala sekolah menerapkan Asset Basset Thingking pada Aset modal sosial ini tentunya lingkungan sekolah akan semakin positif sehingga akan berdampak pada kualitas pembelajaran yang diterima siswa.

Koneksi Dengan Modul 2

2.1. Pembelajaran Berdiferensiasi

Dalam Pembelajaran Berdiferensiasi guru berusaha memenuhi kebutuhan belajar individu siswa. Sebelum melakukan pembelajaran berdiferensiasi terlebih dahulu guru melakukan pemetaan terhadap kesiapan belajar murid, profil belajar dan minat belajar murid. Kaitan dengan modul 3.2. Pengelolaan aset yaitu terletak pada bagaimana cara pandang guru dalam  memfasilitasi keberagaman yang ada pada siswa. Bagaimana guru melihat siswa sebagai individu yang mempunyai keunikan, kecerdasannya masing-masing. Tidak ada pengkotakan antara siswa yang mampu ataupun tidak mampu karna semua siswa mempunyai kecerdasan dan keunikannya tersendiri. Dengan menerapkan pola pikir Asset Based Thingking guru bisa melihat potensi tersebunyi dari diri siswa seperti siswa yang dianggap cerewet oleh guru sebenarnya mempunyai kelebihan percaya diri dan terbuka. Kekuatan- kekuatan seperti itu yang bisa digali lagi dengan kita selalu menerapkan pemikiran Asset Bassed Thingking sehingga aset sosial keberagaman tadi bisa menjadi kekuatan kelas.

2.2. Pembelajaran Sosial Emosional

Dalam pembelajaran sosial emosional guru akan memberikan keterampilan yang dibutuhkan anak untuk bertahan dalam masalah, belajar menempatkan diri secara efektif dalam lingkungan dan dunia. Mempunyai keterampilan mengenal emosi, mengelolah emosi, berempati, membangun relasi, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab. dalam melakukan pengelolaan sebuah aset kita tidak melupakan unsur emosi yang dimiliki oleh manusia. Bahwa semakin seseorang itu memiliki kesadaran diri, kesadaran sosial maka mereka akan mampu mengambil keputusan dengan baik serta mampu mengelolah aset dengan penuh tanggung jawab.

2.3. Coaching

Guru sebagai coach adalah guru ada untuk membantu siswa agar bisa secara mandiri mampu menyelesaikan masalahnya dengan menggunakan kemampuannya sendiri. Coach tidak mengarahkan siswa dengan langsung memberikan solusi tapi coach ada semata-mata untuk menggali kemampuan siswa agar mempunyai solusi sendiri berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki.

Kemampuan-kemampuan yang dimiliki seorang coach dalam mengcoaching sangat berkaitan dengan pengelolaan aset seperti kemampuan berkomunikasi asertif, mendengarkan aktif, bertanya efektif dan umpan balik positif. Mengapa itu sangat berkaitan karna di dalam melakukan proses pengelolaan aset, pemimpin pembelajaran diharapkan mampu berkomunikasi secara asertif komunikasi yang positif yaitu komunikasi  pertanyaan,

 

Koneksi Dengan Modul 3

 

3.1. Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran.

 

Dalam pengelolaan sumber daya pada konteks kelas, pemimpin pembelajaran harus memperkenalkan nilai-nilai kebajikan universal yang ada disekitar siswa. Terkadang mereka akan dihadapkan pada pilihan-pilihan hidup, yaitu benar atau salah. Dengan mengetahui nilai-nilai kebajikan universal artinya memikirkan kekuatan dan kelebihan aset, siswa diajak untuk berpikir bahwa kesempatan atau peluang untuk berubah menjadi maju itu selalu ada. Walaupun dimata orang lain aset tersebut penuh kekurangan tapi dimata orang-orang yang selalu melihat dengan cara positif dan berpikir pasti ada kekuatan tersembunyi didalamnya (Asset Bassed Thingking)  pasti akan berbeda hasilnya. Nilai-nilai kebajikan tadi menjadi patokan kita dapat merefleksikan hal bai kapa yang bis akita terapkan dalam pengembangan aset yang kita miliki. Dan kalaupun nanti ditemukan kasus yang mengandung unsur dilema etika benar melawan benar ataupun bujukan moral, guru dapat mengatasinya dengan berlandaskan pada 4 paradigma dilema etika. 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengujian keputusan.

 

Kesimpulan dari koneksi antar materi dari modul 1, 2 dan 3 adalah mengajarkan guru untuk terus belajar, belajar dan terus belajar memberikan yang terbaik untuk siswa didik. Mulai dari mind set yang menuntun, melayani, sadar akan tugas dan tanggung jawab lalu semangat meraih cita-cita bersama dalam sebuah Visi kelas, menciptakan budaya yang mendukung tumbuh kembang siswa, siap mendengarkan dan memenuhi kebutuhan belajar siswa, menggali kemampuan dalam diri siswa dengan coaching, mampu mengatasi masalah dalam hidup lewat sosial emosional sehingga titik akhirnya ini kembali lagi pada tujuan Pendidikan yaitu merdeka yang benar-benar merdeka serta Bahagia yang setinggi-tingginya.

 

Kesimpulan dari modul 3.2. Pemimpin Dalam Paengelolaan Sumber Daya ialah bagaimana guru sebagai pemimpin pembelajaran sadar dan peduli untuk maksimal melakukan usaha peningkatan kualitas pembelajaran dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada dilingkungan daerah maupun sekolah. Melakukan pemetaan sumber daya, mengolah sumber daya dengan strategi-strategi yang dapat berdampak langsung pada siswa.


Bagaimana pengelolaan sumber daya yang tepat  dapat membantu proses proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas.

Asset Bassed Thingking mengajarkan kepada kita untuk berpikir optimis dan senantiasa melihat segala sesuatu dari segi positif. Walaupun dalam hidup pasti ada sisi negative ataupun kekurangan tapi itu jangan dijadikan alasan untuk tidak melakukan perubahan. Dalam pola pikir yang mengarahkan pada kelemahan tentunya kita bisa berusaha mengambil pelajaran dengan memunculkan kekuatan-kekuatan positif didalamnya. Contohnya saat melihat seseorang yang berbuat salah tidak serta merta kita menghakiminya tapi kita bisa ambil sisi baiknya yaitu dibalik kesalahan yang dibuat itu membuatnya makin banyak memahami dan lebih dewasa lagi. Contohnya aset fisik ruang kelas, jika dikelolah dengan baik mulai dari kebersihan, pengaturan benda-benda yang ada dalam kelas sesuai, SOP kelas, sudut baca yang menyenangkan dan penuh dengan buku yang menarik tentunya akan menarik perhatian siswa untuk betah dan nyaman berada didalam kelas, siswa jadi senang membaca sehingga akan berdampak kepada kualitas pembelajaran dalam kelas.


Contoh hubungan materi dalam modul 1 terhadap materi modul 3

Guru mempunyai mindset untuk mempersembahkan pembelajaran yang berpusat pada siswa maka guru tersebut akan berusaha melakukan perubahan dengan memanfaatkan aset/ kekuatan yang ada untuk mendukung tercapainya perubahan. Aset yang bisa digunakan adalah Siswa sebagai agen perubahan. Dengan mempelajari modul 3.2. CGP lebih peka lagi bahwa banyak sekali modal yang ada disekitar kita yang bisa dikelolah untuk dipergunakan dalam proses KBM. Mungkin selama ini fokus hanya berada dalam kelas saja tapi bisa kita perluas lagi sampai diluar kelas bahkan diluar sekolah.

 

Sebelum saya mempelajari materi ini, interaksi sosial yang saya lakukan cenderung mengikuti alur bagai air yang mengalir, tidak terlalu memikirkan pemikiran- pemikiran negatif yang akan berdampak pada orang lain selama saya tidak ikut terpengaruh. Didalam berinteraksi memang kita bisa memilih dengan siapa kita bergaul tapi dalam sebuah institusi/ komunitas kita dituntut untuk berkolaborasi dan bertukar pikran dengan rekan kerja. Terkadang  kita tidak sepaham dengan pemikiran mereka dalam memposisikan dirinya sebagai guru, yang hanya memikir mengajar hanya sebuah tugas semata dan tidak lebih. Padahal kita tahu bahwa tugas sebagai guru itu bukan hanya mengajar dikelas tapi sampai pada komunikasi terhadap orangtua, mengenali karakter siswa, memantau perkembangan siswa. Orang-orang yang acuh tadi pasti ada dan kita tidak bisa menghindari mereka. Pikiran-pikran negative yang secara sadar kita dengar tidak berusaha kita rubah. Tapi setelah memperlajari modul 3.2. ini saya merasa mempunyai tanggung jawab besar sebagai pemimpin dalam pengelolaan aset bahwa sangat penting bagi menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif, berkolaborasi, penuh kesadaran akan tugas dan tanggung jawab bukan hanya untuk saya sendiri tapi juga untuk orang-orang yang ada dalam lingkup kerja saya.

B.    Rancangan Tindakan

 

PRAKARSA PERUBAHAN

Membuat Kelas 4A Menyenangkan   

TAHAPAN

Pertanyaan

Daftar tindakan/ riset/ penyelidikan yang perlu dilakukan untuk mendapatkan jawaban

B-uat pertanyaan (Define)

       Membuat pertanyaan utama yang akan menentukan arah investigasi kekuatan/potensi/ peluang;

       Menggalang atau membangun koalisi tim perubahan

 

Apa yang harus saya lakukan agar  membuat kelas menjadi menyenangkan dan nyaman.

-        Menganalisa space kelas/ keadaan ruang kelas

-         Menentukan bagian apa saja yang akan dirubah

-        Membuat daftar-daftar kecil kegiatan yang akan dilakukan.

A-mbil pelajaran (Discover)

       Menyusun pertanyaan lanjutan untuk menemukenali kekuatan/potensi/ peluang lewat investigasi;

       Menentukan bagaimana cara kita menggali fakta, memperoleh data, diskusi kelompok kecil/besar, survei individu, multi unsur

 Contoh kelas-kelas yang menyenangkan itu seperti apa?

-        Melihat dan bertanya pengalaman guru lain yang kelasnya terlihat menyenangkan

-        Menulis hal-hal yang kita temukan dan menjadikannya masukan yang perlu dipertimbangkan

-        Mencatat apa yang kita peroleh dari hasil wawancara

G-ali mimpi (Dream)

       Menyusun deskripsi kolektif bilamana inisiatif terwujud;

       Mengalokasikan kesempatan untuk berproses bersama, multiunsur (kapan, di mana, siapa saja).

 Apa saja yang kami inginkan terdapat dalam kelas agar kelas kami menyenangkan

-        Menyiapkan ruangan kelas

-        Menyiapkan tempat baca

-        Menentukan hiasan kelas

-        Menyiapkan kesepakatan

-        Sikap siswa dan guru.

-        Menyiakan bunga hias

-        Menyiapkan permainan yang menyenangkan.

J-abarkan rencana (Design)

        Mengidentifikasi tindakan konkret yang diperlukan untuk menjalankan langkah-langkah kecil sederhana yang dapat dilakukan segera,dan langkah berani/terobosan yang akan memudahkan keseluruhan pencapaian;

        Menyusun definisi kesuksesan pencapaian

-        Rencana seperti apa yang bisa kami susun agar bisa menghadirkan kelas yang menyenangkan  

-        Membuat daftar rencana

Merubah kelas, bagian kelas yang dirubah agar lebih menarik dan menyenangkan

-        Menentukan hari pelaksanaan perubahan kelas

-        Menentukan tugas masing-masing siswa

-        Menentukan skala prioritas perubahan, misalnya sudut baca, hiasan kelas,kebersihan kelas.

-        Membuat beberapa catatan

 

 

A-tur eksekusi (Deliver)

       Menentukan siapa yang berperan/ dilibatkan dalam pengambilan keputusan;

       Mendesain jalur komunikasi dan pengelolaan rutinitas (misal: SOP, knowledge management, monev/refleksi)

Siapa saja yang terlibat dalam perubahan kelas?

 

SOP pengelolaan seperti apa yang membuat kelas tertata dengan baik dan menyenangkan.

 

 

-        Walikelas, pendamping kelas dan siswa melaksanakan perubahan didalam kelas 4a secara Bersama-sama

 

(Maret 2022)

 

 



Ruangan Kelas yang Luas dan Nyaman


Halaman Sekolah yang Luas dan Nyaman





                                    




                                          

 

Waktu

Waktu berlalu Tinggalkan pedih perih Bila ingat kenangan lalu Tak menentu kemana hati melangkah  Tak terasa banyak hal yang sudah kulalui  B...